KAI Daop 2 Siapkan 60.717 Kursi Hadapi Libur Panjang Maulid Nabi 21 Aug 2026 Cuaca Bandung Jumat 21 Agustus: Cerah, Suhu Capai 31 Derajat Celsius 21 Aug 2026 KHUTBAH JUMAT | Sifat Muslim Sejati 21 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Sustainability Shift Buka Peluang Baru di Lima Sektor Strategis Indonesia 20 Aug 2026 KAI Daop 2 Siapkan 60.717 Kursi Hadapi Libur Panjang Maulid Nabi 21 Aug 2026 Cuaca Bandung Jumat 21 Agustus: Cerah, Suhu Capai 31 Derajat Celsius 21 Aug 2026 KHUTBAH JUMAT | Sifat Muslim Sejati 21 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Sustainability Shift Buka Peluang Baru di Lima Sektor Strategis Indonesia 20 Aug 2026

SOSOK | Tantan Sulthon, Dari Pangalengan untuk Jabar

ED
PN
Kamis, 13 Agustus 2026 | 03:22 WIB
Bagikan
SOSOK | Tantan Sulthon, Dari Pangalengan untuk Jabar

VISI.NEWS - Kemenangan Tantan Sulthon Bukhawan dalam pemilihan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat periode 2026–2031 bukan hanya menjadi kabar penting bagi insan pers di Jawa Barat. Bagi sebagian warga Kabupaten Bandung, khususnya Pangalengan, kemenangan itu menghadirkan kebanggaan tersendiri.

Salah satunya dirasakan Ecep Sukirman, Sekretaris PWI Kabupaten Bandung. Saat berbincang di Redaksi VISI.NEWS, Selasa (11/8/2026), Ecep mengaku bangga karena ada putra daerah Pangalengan yang dipercaya maju untuk memimpin organisasi profesi wartawan terbesar dan tertua di Indonesia di tingkat provinsi.

"Sebagai orang yang sama-sama berasal dari Pangalengan, saya merasa bangga. Tantan memang layak menjadi Ketua PWI Jawa Barat. Selain memiliki integritas, beliau sudah lama berkiprah dan mengabdi di organisasi ini. Pengalamannya lengkap, memahami kebutuhan anggota, dan punya visi yang jelas untuk kemajuan PWI," ujar Ecep.

Penilaian itu bukan tanpa alasan. Di kalangan wartawan Jawa Barat, nama Tantan Sulthon Bukhawan bukanlah sosok baru. Ia dikenal sebagai jurnalis yang tumbuh dari bawah, meniti karier secara bertahap, aktif di organisasi, dan memiliki rekam jejak panjang dalam dunia komunikasi publik.

Anak Kampung yang Menjadi Pemimpin

Jauh sebelum dikenal sebagai wartawan senior dan pengurus PWI Jawa Barat, Tantan adalah anak kampung yang tumbuh di kawasan pegunungan Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Hamparan kebun teh yang membentang luas, udara dingin khas pegunungan, dan kehidupan masyarakat yang sederhana menjadi bagian dari keseharian masa kecilnya. Lingkungan tersebut membentuk karakter Tantan menjadi pribadi yang terbiasa bekerja keras, dekat dengan masyarakat, dan tidak mudah menyerah menghadapi tantangan.

Perjalanan pendidikannya dimulai dari SDN Citere, kemudian berlanjut ke SMPN 2 Kertasari, sebelum melanjutkan pendidikan menengah di Madrasah Aliyah Baitul Arqom Bandung.

Dari lingkungan pendidikan itulah tumbuh rasa ingin tahu yang besar terhadap berbagai persoalan sosial dan kemasyarakatan. Ketertarikan itu kemudian membawanya melanjutkan studi ke Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Di bangku kuliah, Tantan mempelajari teori komunikasi, jurnalistik, penyiaran, dan berbagai aspek yang berkaitan dengan penyampaian informasi kepada publik.

Namun bagi Tantan, komunikasi tidak hanya soal kemampuan berbicara.

"Komunikasi itu bukan hanya bicara, tetapi juga kemampuan mendengar dan memahami orang lain," pernah ungkapnya.

Pandangan tersebut kelak menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan profesinya sebagai wartawan maupun pemimpin organisasi.

Menjadikan Wartawan Sebagai Jalan Pengabdian

Ketika banyak orang memilih profesi karena faktor ekonomi atau popularitas, Tantan memiliki alasan yang berbeda.

"Saya memilih menjadi wartawan karena ingin mengenal banyak orang. Dari setiap orang selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Dan melalui profesi ini, saya ingin menjadi bagian dari agen perubahan untuk kepentingan publik," katanya.

Pernyataan itu menggambarkan bagaimana ia memandang profesi wartawan bukan sekadar pekerjaan, melainkan ruang pembelajaran yang tidak pernah berhenti.

Karier jurnalistiknya berkembang hingga dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Pemimpin Redaksi InilahKoran, salah satu media yang memiliki pengaruh cukup besar di Jawa Barat.

Di ruang redaksi, Tantan dikenal sebagai sosok yang mengedepankan disiplin, akurasi, dan etika jurnalistik. Baginya, berita bukan sekadar rangkaian kata-kata, melainkan amanah publik yang harus dipertanggungjawabkan.

"Menulis bukan hanya menyusun kata menjadi berita. Menulis adalah menjaga kepercayaan publik," menjadi prinsip yang kerap ia sampaikan kepada wartawan muda.

Pembelajar Seumur Hidup

Meski telah mencapai posisi penting dalam karier profesionalnya, Tantan tidak pernah berhenti belajar.

Ia kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang magister di UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada program studi yang sama dan berhasil menyelesaikannya dengan IPK 3,87.

Bagi Tantan, capaian akademik bukanlah tujuan akhir.

"Kalau berhenti belajar, kita akan tertinggal oleh perubahan. Wartawan justru harus menjadi orang yang paling cepat belajar," katanya.

Prinsip tersebut menjadi semakin relevan di tengah perubahan dunia media yang berlangsung sangat cepat akibat perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

Ia meyakini bahwa wartawan masa kini tidak cukup hanya menguasai teknik menulis, tetapi juga harus memahami teknologi, data, multimedia, serta perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi.

Dibentuk oleh Buku dan Pemikiran Besar

Cara berpikir Tantan juga banyak dipengaruhi oleh berbagai bacaan yang menemani perjalanan intelektualnya.

Salah satu buku yang memberi pengaruh besar adalah Madilog karya Tan Malaka. Dari buku tersebut, ia belajar mengenai pentingnya berpikir logis, kritis, dan rasional dalam melihat persoalan.

Sementara karya-karya Buya Hamka memberinya pelajaran mengenai pentingnya keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan akhlak.

Kemudian buku Last Call karya Elon Green mengingatkannya bahwa setiap peristiwa selalu memiliki sisi kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan oleh seorang jurnalis.

Dari berbagai bacaan itu, lahir tiga tokoh yang kerap disebut sebagai sumber inspirasi dalam hidupnya.

Tan Malaka mengajarkan keberanian berpikir.

Lafran Pane mengajarkan pengabdian dan perjuangan melalui organisasi.

Sedangkan Buya Hamka mengajarkan bahwa ilmu dan akhlak harus berjalan beriringan.

Kiprah Organisasi dan Komunikasi Publik

Perjalanan Tantan tidak hanya berlangsung di ruang redaksi.

Ia pernah dipercaya menjadi Tenaga Ahli Humas DPRD Kabupaten Cirebon, berkiprah sebagai konsultan media, serta terlibat dalam penyelenggaraan PON XIX dan Peparnas XV Jawa Barat.

Berbagai pengalaman tersebut memperluas wawasannya mengenai pentingnya komunikasi publik yang efektif dalam membangun kepercayaan masyarakat.

Di sisi lain, aktivitas organisasi telah menjadi bagian dari hidupnya sejak mahasiswa.

Ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Soreang dan pernah memimpin Keluarga Mahasiswa Bandung (Kembang).

Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang posisi, melainkan kemampuan menggerakkan orang lain menuju tujuan bersama.

"Pemimpin bukan orang yang selalu harus berada di depan. Pemimpin adalah orang yang memastikan semua anggota bisa bergerak menuju tujuan yang sama," menjadi salah satu pandangannya tentang kepemimpinan.

Membawa Semangat Perubahan ke PWI

Sebelum terpilih sebagai Ketua PWI Jawa Barat, Tantan menjabat sebagai Sekretaris PWI Jawa Barat. Posisi tersebut memberinya kesempatan memahami berbagai persoalan yang dihadapi organisasi dan anggotanya.

Ia melihat organisasi profesi wartawan tidak cukup hanya menjadi tempat berkumpul.

Menurutnya, organisasi harus menjadi rumah yang mampu melindungi anggota, meningkatkan kompetensi, dan memperjuangkan kesejahteraan wartawan.

"Organisasi harus menjadi tempat orang bertumbuh, bukan sekadar tempat berkumpul," tegasnya.

Gagasan itu kemudian diwujudkan melalui konsep "PWI Jabar Istimewa" yang menjadi visi utamanya ketika maju dalam pemilihan Ketua PWI Jawa Barat.

Visi tersebut menekankan penguatan organisasi hingga tingkat kabupaten dan kota, peningkatan kompetensi wartawan, pengembangan pelatihan profesional, serta adaptasi terhadap perkembangan teknologi digital.

Menjaga Marwah Profesi

Bagi Tantan, profesi wartawan memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menghasilkan berita setiap hari.

Ada fakta yang harus dijaga.

Ada informasi yang harus disampaikan secara bertanggung jawab.

Ada kepentingan publik yang harus dilayani.

Dan ada generasi wartawan muda yang perlu mendapatkan ruang untuk belajar dan berkembang.

Karena itulah perjalanan pengabdiannya belum dianggap selesai meski kini telah dipercaya memimpin PWI Jawa Barat periode 2026–2031.

Jika ditarik ke belakang, seluruh perjalanan hidupnya memiliki satu benang merah yang kuat: belajar, mengabdi, dan memberi manfaat.

Dari sebuah kampung sederhana di Pangalengan hingga memimpin organisasi wartawan tingkat provinsi, perjalanan Tantan Sulthon Bukhawan menjadi bukti bahwa ketekunan, integritas, dan semangat belajar dapat membawa seseorang melampaui batas-batas yang sebelumnya mungkin tidak pernah dibayangkan.

Pada akhirnya, ada satu prinsip hidup yang terus dipegangnya hingga hari ini.

"Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain."

Prinsip sederhana itulah yang tampaknya menjadi kompas perjalanan Tantan Sulthon Bukhawan—wartawan, organisator, pemimpin, sekaligus putra Pangalengan yang kini dipercaya menakhodai PWI Jawa Barat.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.