SOSOK | Pakar Ekonomi Eksentrik Ferry Latuhihin, Dihormati dan Ditakuti

ED
Rabu, 29 Oktober 2025 | 18:11 WIB
Bagikan
SOSOK | Pakar Ekonomi Eksentrik Ferry Latuhihin, Dihormati dan Ditakuti

VISI.NEWS | BANDUNG Di dunia ekonomi dan pasar modal, nama Ferry Latuhihin sudah menjadi “ikon kontroversial” yang dihormati sekaligus ditakuti. Pakar ekonomi ini dikenal karena analisisnya yang tajam, kritiknya yang blak-blakan, dan gaya bicara eksentrik. Bagi para politisi dan profesional, Ferry bukan sekadar pengamat, tetapi alarm yang tidak segan menegur kebijakan yang dianggap menyimpang.

Meski bersahabat lama dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Ferry mempertahankan independensi intelektualnya. “Persahabatan tidak boleh membutakan logika. Saya berbicara apa adanya,” ujarnya saat ditemui di kantornya di Depok. Pernyataan itu membuatnya dihormati sekaligus dianggap mengganggu oleh sebagian kalangan.

Ferry menempuh S1 hingga S3 di Erasmus University Rotterdam, salah satu kampus ekonomi bergengsi di Eropa. Di sini ia mengasah kemampuan analisis dan membangun pemahaman mendalam tentang ekonomi global. “Ilmu yang saya dapat di sana bukan sekadar angka, tapi cara berpikir kritis,” katanya. Gelar akademik itu menjadi fondasi bagi kariernya yang cemerlang.

Karier profesional Ferry diawali sebagai Chief Economist di Bank International Indonesia (BII). Posisi ini membekalinya dengan wawasan komprehensif soal pasar modal, kebijakan moneter, dan dinamika ekonomi makro. Rekam jejaknya di dunia perbankan membangun reputasinya sebagai analis yang teliti dan berani bersuara.

Kini, Ferry memimpin sebagai Kepala Ekonom di Tanamduit, platform keuangan digital yang menyediakan beragam instrumen investasi dan asuransi. “Di sini, saya bisa menguji teori dengan praktik nyata,” ujarnya. Analisis pasar yang ia sajikan sering menjadi rujukan investor dan regulator, meski beberapa prediksinya kontroversial.

Selain profesional, Ferry juga pernah terlibat dalam dunia politik. Ia menjadi Penasihat Ahli Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024. “Politik memberi perspektif berbeda soal ekonomi. Tapi prinsip analisis tetap sama: berbasis data, bukan kepentingan,” katanya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.