SOSOK | Pakar Ekonomi Eksentrik Ferry Latuhihin, Dihormati dan Ditakuti
Di media, Ferry tak kalah vokal. Lewat akun Instagram dan YouTube @jenderal.keuangan, ia rutin membahas isu ekonomi, investasi, dan kebijakan publik. “Banyak orang takut bicara benar. Saya tidak,” ujarnya. Keberanian ini membuatnya populer di kalangan milenial dan profesional muda.
Ferry dikenal eksentrik, lugas, dan bernalar kritis. Ia bersahabat dengan Purbaya selama lebih dari 25 tahun, tetapi berani menilai kebijakan ekonomi yang dianggap bermasalah, termasuk pengelolaan bank-bank BUMN yang menurutnya berisiko tinggi. “Persahabatan bukan alasan untuk menutup mata terhadap fakta,” tegasnya.
Selain itu, gaya komunikasinya yang unik kerap menarik perhatian publik. Dalam satu seminar, Ferry pernah berkata, “Ekonomi itu seperti masak rendang, kalau bumbu salah, rasanya akan rusak, meski semua bahan lain bagus.” Pernyataan ini viral di kalangan profesional muda dan media sosial.
Bagi mahasiswa dan analis muda, Ferry adalah mentor sekaligus tantangan. Ia kerap menekankan pentingnya berpikir independen. “Jangan takut salah, tapi jangan juga takut bicara benar,” kata Ferry. Filosofi ini membuatnya banyak diikuti oleh generasi ekonom baru.
Selain di media sosial, Ferry rutin menulis opini di media cetak dan jurnal ekonomi. Pandangannya tentang kebijakan moneter, pasar saham, dan investasi digital selalu mengundang perhatian. Ia tak ragu mengkritik pejabat atau kebijakan pemerintah jika dianggap tidak tepat, sekalipun itu teman lama.
Dengan pengalaman, pengetahuan, dan keberanian kritisnya, Prof. Ferry Latuhihin tetap menjadi sosok yang ditunggu pandangannya. Dalam dunia ekonomi yang sering dipengaruhi kepentingan politik dan bisnis, Ferry adalah suara yang tak pernah kompromi. Ia menjadi pengingat bahwa logika dan data harus selalu mengalahkan kepentingan pribadi.
Di mata banyak pihak, Ferry bukan hanya analis ekonomi, tapi simbol integritas intelektual: kritis, cerdas, dan tanpa kompromi. Ia menunjukkan bahwa keberanian berpikir dan menyuarakan kebenaran tetap relevan di era modern, meski terkadang menimbulkan kontroversi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!