SOSOK | Pakar Ekonomi Eksentrik Ferry Latuhihin, Dihormati dan Ditakuti
VISI.NEWS | BANDUNG – Di dunia ekonomi dan pasar modal, nama Ferry Latuhihin sudah menjadi “ikon kontroversial” yang dihormati sekaligus ditakuti. Pakar ekonomi ini dikenal karena analisisnya yang tajam, kritiknya yang blak-blakan, dan gaya bicara eksentrik. Bagi para politisi dan profesional, Ferry bukan sekadar pengamat, tetapi alarm yang tidak segan menegur kebijakan yang dianggap menyimpang.
Meski bersahabat lama dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Ferry mempertahankan independensi intelektualnya. “Persahabatan tidak boleh membutakan logika. Saya berbicara apa adanya,” ujarnya saat ditemui di kantornya di Depok. Pernyataan itu membuatnya dihormati sekaligus dianggap mengganggu oleh sebagian kalangan.
Ferry menempuh S1 hingga S3 di Erasmus University Rotterdam, salah satu kampus ekonomi bergengsi di Eropa. Di sini ia mengasah kemampuan analisis dan membangun pemahaman mendalam tentang ekonomi global. “Ilmu yang saya dapat di sana bukan sekadar angka, tapi cara berpikir kritis,” katanya. Gelar akademik itu menjadi fondasi bagi kariernya yang cemerlang.
Karier profesional Ferry diawali sebagai Chief Economist di Bank International Indonesia (BII). Posisi ini membekalinya dengan wawasan komprehensif soal pasar modal, kebijakan moneter, dan dinamika ekonomi makro. Rekam jejaknya di dunia perbankan membangun reputasinya sebagai analis yang teliti dan berani bersuara.
Kini, Ferry memimpin sebagai Kepala Ekonom di Tanamduit, platform keuangan digital yang menyediakan beragam instrumen investasi dan asuransi. “Di sini, saya bisa menguji teori dengan praktik nyata,” ujarnya. Analisis pasar yang ia sajikan sering menjadi rujukan investor dan regulator, meski beberapa prediksinya kontroversial.
Selain profesional, Ferry juga pernah terlibat dalam dunia politik. Ia menjadi Penasihat Ahli Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024. “Politik memberi perspektif berbeda soal ekonomi. Tapi prinsip analisis tetap sama: berbasis data, bukan kepentingan,” katanya.
Di media, Ferry tak kalah vokal. Lewat akun Instagram dan YouTube @jenderal.keuangan, ia rutin membahas isu ekonomi, investasi, dan kebijakan publik. “Banyak orang takut bicara benar. Saya tidak,” ujarnya. Keberanian ini membuatnya populer di kalangan milenial dan profesional muda.
Ferry dikenal eksentrik, lugas, dan bernalar kritis. Ia bersahabat dengan Purbaya selama lebih dari 25 tahun, tetapi berani menilai kebijakan ekonomi yang dianggap bermasalah, termasuk pengelolaan bank-bank BUMN yang menurutnya berisiko tinggi. “Persahabatan bukan alasan untuk menutup mata terhadap fakta,” tegasnya.
Selain itu, gaya komunikasinya yang unik kerap menarik perhatian publik. Dalam satu seminar, Ferry pernah berkata, “Ekonomi itu seperti masak rendang, kalau bumbu salah, rasanya akan rusak, meski semua bahan lain bagus.” Pernyataan ini viral di kalangan profesional muda dan media sosial.
Bagi mahasiswa dan analis muda, Ferry adalah mentor sekaligus tantangan. Ia kerap menekankan pentingnya berpikir independen. “Jangan takut salah, tapi jangan juga takut bicara benar,” kata Ferry. Filosofi ini membuatnya banyak diikuti oleh generasi ekonom baru.
Selain di media sosial, Ferry rutin menulis opini di media cetak dan jurnal ekonomi. Pandangannya tentang kebijakan moneter, pasar saham, dan investasi digital selalu mengundang perhatian. Ia tak ragu mengkritik pejabat atau kebijakan pemerintah jika dianggap tidak tepat, sekalipun itu teman lama.
Dengan pengalaman, pengetahuan, dan keberanian kritisnya, Prof. Ferry Latuhihin tetap menjadi sosok yang ditunggu pandangannya. Dalam dunia ekonomi yang sering dipengaruhi kepentingan politik dan bisnis, Ferry adalah suara yang tak pernah kompromi. Ia menjadi pengingat bahwa logika dan data harus selalu mengalahkan kepentingan pribadi.
Di mata banyak pihak, Ferry bukan hanya analis ekonomi, tapi simbol integritas intelektual: kritis, cerdas, dan tanpa kompromi. Ia menunjukkan bahwa keberanian berpikir dan menyuarakan kebenaran tetap relevan di era modern, meski terkadang menimbulkan kontroversi.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!