SOSOK | Abah Nanu Turun Gunung! Maestro Dunia Siap Besarkan Festival Al Jabbar
Salah satu maestro seni pertunjukan Indonesia, Abah Nanu atau Mas Nanu Munajar Dahlan. /visi.news/ist
VISI.NEWS – Gelombang dukungan terhadap Festival Al Jabbar terus membesar. Setelah mendapat sambutan dari berbagai kalangan seni dan budaya, kini salah satu maestro seni pertunjukan Indonesia, Abah Nanu atau Mas Nanu Munajar Dahlan, resmi menyatakan kesiapannya bergabung dalam jajaran kepanitiaan. Bergabungnya sosok yang selama lebih dari empat dekade mengabdikan hidupnya untuk seni tradisi Sunda itu diyakini menjadi suntikan moral sekaligus kekuatan intelektual bagi festival yang diproyeksikan menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Jawa Barat.
Bagi dunia seni Indonesia, nama Abah Nanu bukanlah sosok asing. Ia merupakan koreografer, akademisi, peneliti, sekaligus pejuang budaya yang konsisten menjaga denyut kesenian Sunda agar tetap hidup di tengah arus modernisasi. Karya-karyanya telah melintasi batas negara, sementara pemikirannya menjadi rujukan dalam pelestarian seni tradisi di Indonesia.
Keputusannya bergabung dengan Festival Al Jabbar dinilai sebagai langkah strategis yang dapat memperkuat posisi festival tersebut, bukan hanya sebagai ajang pertunjukan seni, tetapi juga sebagai ruang diplomasi budaya yang memperkenalkan kekayaan warisan Indonesia kepada dunia.
Empat Dekade Menjadi Penjaga Warisan Budaya Sunda
Lahir di Subang pada 6 Desember 1960, perjalanan seni Abah Nanu dimulai sejak menempuh pendidikan di Konservatori Karawitan Bandung yang kini dikenal sebagai SMKN 10 Bandung. Minat dan bakatnya terhadap seni tari kemudian membawanya melanjutkan pendidikan di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung yang kini berkembang menjadi Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.
Semangat belajar tidak berhenti di sana. Ia melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar Magister di Universitas Gadjah Mada (UGM), memperkuat fondasi akademiknya sebagai seniman sekaligus peneliti budaya.
Sebagai dosen di ISBI Bandung, Abah Nanu dikenal bukan hanya karena kemampuan artistiknya, tetapi juga karena dedikasinya membentuk generasi baru pelaku seni. Baginya, seni tradisi bukan sekadar materi pembelajaran, melainkan identitas bangsa yang harus diwariskan secara utuh kepada generasi penerus.
Ia selalu menanamkan pemahaman bahwa tari adalah bahasa budaya yang mengandung nilai sejarah, filosofi, serta karakter masyarakat yang melahirkannya.
Pemikiran itulah yang kemudian mewarnai berbagai karya dan penelitian yang dilakukannya selama puluhan tahun.
Melalui tangan dinginnya, berbagai kesenian rakyat Sunda seperti Doger Kontrak, Gaplek, Cikeruhan, hingga Topeng berhasil direvitalisasi sehingga kembali mendapat tempat di tengah masyarakat.
Abah Nanu tidak sekadar mendokumentasikan tradisi, tetapi juga menghidupkannya kembali melalui penciptaan karya-karya baru yang tetap berpijak pada nilai-nilai leluhur, namun mampu diterima oleh generasi muda.
Perjalanan panjangnya sebagai seniman juga membawanya menjadi duta budaya Indonesia di berbagai panggung internasional.
Karya-karya seni pertunjukan Sunda yang dibawanya telah tampil di Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Italia, Australia, hingga berbagai negara lainnya.
Melalui setiap penampilan tersebut, Abah Nanu memperkenalkan wajah budaya Indonesia kepada dunia sekaligus menunjukkan bahwa seni tradisi mampu berdialog dengan budaya global tanpa kehilangan jati dirinya.
Dedikasi luar biasa itu mendapat pengakuan ketika ISBI Bandung menganugerahkan penghargaan Maestro Koreografer pada 2024. Penghargaan tersebut menjadi bentuk penghormatan atas pengabdian panjangnya dalam melestarikan sekaligus mengembangkan seni tari tradisional Indonesia.
Ingin Festival Al Jabbar Jadi Panggung Dunia Pencak Silat
Kini, semangat pengabdiannya memasuki babak baru melalui Festival Al Jabbar.
Bagi Abah Nanu, festival tersebut tidak cukup hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi harus berkembang menjadi momentum besar bagi pelestarian pencak silat sebagai warisan budaya tak benda dunia yang telah diakui UNESCO.
"Insyaallah, Festival Al Jabbar ini dapat menjadi momentum monumental bagi pewarisan seni pencak silat. Saat ini saya juga mendapat amanah dari ISBI untuk membuka Program Studi Pencak Silat," ujar Abah Nanu.
Ia bahkan memiliki gagasan besar agar Festival Al Jabbar mampu mempertemukan para pendekar pencak silat dari berbagai negara.
"Saya ingin membawa para pendekar silat dari puluhan negara hadir dalam Festival Jawa Barat ini. Ini akan menjadi momentum yang sangat baik untuk memperlihatkan bahwa pencak silat adalah kebanggaan bangsa Indonesia," katanya.
Menurut Abah Nanu, festival tersebut juga harus menjadi ruang penghormatan bagi para guru besar, maestro, dan tokoh pencak silat yang selama puluhan tahun menjaga kelestarian warisan budaya bangsa hingga memperoleh pengakuan dunia.
"Kita wajib memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para tokoh pencak silat yang telah mengabdikan hidupnya demi menjaga dan mengembangkan warisan budaya bangsa," tegasnya.
Gagasan tersebut sejalan dengan semangat Festival Al Jabbar yang ingin menjadikan budaya sebagai instrumen pemersatu sekaligus sarana diplomasi Indonesia di tingkat internasional.
Ketua Pelaksana Festival Al Jabbar, Bambang Melga, menyambut bergabungnya Abah Nanu dengan penuh antusias. Menurutnya, kehadiran maestro seni tersebut menjadi energi baru bagi seluruh panitia dalam mewujudkan festival berskala internasional.
"Kami bersyukur satu per satu tokoh besar seni dan budaya ikut bergabung. Kehadiran Abah Nanu menjadi energi luar biasa bagi kami. Ini bukan sekadar festival, tetapi gerakan budaya yang akan mempertemukan para seniman, budayawan, dan pendekar dari berbagai daerah bahkan berbagai negara," ujar Bambang.
Ia optimistis keterlibatan Abah Nanu akan memperkuat kualitas artistik sekaligus arah konseptual Festival Al Jabbar, sehingga mampu menjadi agenda budaya yang tidak hanya membanggakan Jawa Barat, tetapi juga Indonesia di mata dunia.
Dengan bergabungnya sosok yang telah mengabdikan lebih dari 40 tahun hidupnya bagi seni dan budaya, Festival Al Jabbar kini memiliki modal penting untuk berkembang menjadi panggung internasional yang mempertemukan seni pertunjukan, pencak silat, para maestro, budayawan, hingga komunitas budaya dari berbagai negara dalam satu semangat: merawat warisan leluhur dan memperkenalkannya kepada dunia.
@bambang melga
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!