SKETSA | Visi & Misi

ED
Minggu, 17 April 2022 | 06:00 WIB
Bagikan
SKETSA | Visi & Misi

Oleh Syakieb Sungkar

SEBUAH perusahaan yang ingin terus maju dan sustainable membutuhkan visi dan misi yang akan menjadi tujuan bagi seluruh karyawan dan stakeholdernya. Visi adalah gambaran tentang apa yang diinginkan oleh perusahaan, dan perusahaan itu ingin meraih apa sebagai hasil dari kerja keras yang dilakukannya. Sedangkan Misi dibentuk berdasarkan Visi. Dalam membentuk Misi dibutuhkan pemikiran kritis dan reflektif tentang bisnis perusahaan. Di samping menentukan pilihan yang akan dibuat berdasarkan pada apa yang ingin dan mungkin dicapai, dan bisnis yang akan digelutinya, medan persaingan, dan target kelompok pelanggan tertentu yang akan dilayaninya. Dengan Visi dan Misi, perusahaan akan memutuskan apa yang tidak dapat dilakukan dan dicapai, ingin bersaing dengan siapa, dan siapa saja yang tidak dilayaninya. Hal ini merupakan pilihan sulit yang hanya dihasilkan dari pemikiran dan analisis yang intensif.

Di tahun 2007, ketika shareholder terbesarnya masih dipegang oleh Singapura, visi perusahaan saya adalah sebuah perusahaan telekomunikasi seluler yang akan menjadi setara dengan Telkomsel, dengan meraih 40% market share. Untuk mencapai visi tersebut, diperlukan pembangunan pemancar BTS di seluruh Indonesia sehingga jangkauan seluler bisa mencapai pelosok daerah. Namun tekanan politik ketika itu lebih menginginkan Singapura keluar dari Indonesia sehingga Temasek menjual sharenya kepada Qatar. Begitu Qatar menguasai, di tahun 2008, dengan segera mereka mengubah visi perusahaan dari keinginan untuk mencapai 40% market share (ketika itu market share sudah mencapai 30%), menjadi pencarian profit margin yang sebesar-besarnya.

Perubahan visi tersebut menyebabkan adanya pergeseran misi dari mulanya perusahaan ingin terus berinvestasi memperluas jangkauan ke seluruh pelosok Nusantara menjadi terfokus pada daerah-daerah potensial saja. Dalam hal ini lokasi-lokasi yang akan dilayani akan lebih intensif di Jawa dan beberapa kota besar di Sumatra. Sehingga investasi BTS dihentikan dan pencapaian market share dianggap tidak penting. Seiring dengan itu manajemen baru mulai memilih jenis pelanggan yang akan dilayaninya, yaitu pelanggan-pelanggan yang memberikan kontribusi revenue (ARPU) tinggi saja. Agar terjaring pelanggan yang ARPU tinggi dan menendang pelanggan yang ARPU rendah, maka menajemen kemudian menaikan tarifnya. Selain itu perusahaan menjalankan program efisiensi di segala bidang, termasuk efisiensi dalam bidang pelayanan. Beberapa kantor pelayanan kemudian ditutup karena dinilai kunjungan pelanggan yang datang kurang memadai dari segi jumlah.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.