SKETSA | Ustadz Das’ad
Oleh Syakieb Sungkar
RUMAH saya ketika kecil itu betul-betul di tengah Kota Jakarta. Dikelilingi pohon mangga golek, jambu kelutuk, berendang, mengkudu, pisang, jambu air, sawo, kelapa, jamblang, belimbing, asem jawa, rambutan dan petai cina. monyet, musang, kelelawar raksasa, burung hantu, ular, cerpelai, cekiber dan biawak, sudah merupakan pemandangan sehari-hari di lingkungan tempat tinggal saya. Sementara PLN belum masuk ke semua rumah, dan tidak ada lampu jalan. Sehingga di malam hari cukup menyeramkan. Walau demikian, setiap habis Isya, ibu menyuruh saya mengaji ke sebuah langgar yang jaraknya sekitar 2 km. Saya diasuh oleh Ustadz Tajudin yang mengajar Juz Amma (kumpulan surat-surat pendek dalam Al Quran). Tetapi tidak berapa lama kemudian Ustadz itu meminta saya langsung ‘meloncat’ membaca Al Quran, mempelajari surat Al Baqarah dan surat-surat lain yang panjang. Karena saya dianggap cepat pintar dalam mengeja dan melanggamkan tulisan Arab.
Khusus malam Jumat, yang mengajar di langgar itu namanya Ustadz Ali Al Hamidy, seorang kakek yang spesialisasinya membahas kitab Hadits. Ustadz Ali, seorang asli Betawi yang ketika tengah mengajar biasanya mengisahkan cerita lucu sebagai ilustrasi Hadits yang sedang ia jelaskan. Cukup mengherankan, cerita-cerita lucu itu tidak pernah berulang, setiap pertemuan selalu ada satu cerita lucu muncul. Apakah ia mencatat seluruh cerita-cerita lucunya? Tetapi sepulangnya dari pengajian, bulu kuduk saya merinding, karena pohon-pohon besar yang daunnya bergerak tertiup angin di sepanjang jalan itu mirip raksasa berambut kribo yang bercakap-cakap dalam gelap. Sehingga mata saya selalu tertunduk ke bawah.
Apalagi zaman itu jalan masih tanah, belum disemen dan di kiri kanannya sering ada rawa dan balong atau kolam ikan. Belum lagi saya merasakan ada kuntilanak mengikuti dari belakang, sehingga langkah saya tanpa terasa semakin cepat agar buru-buru sampai di rumah. Mengingat zaman itu rumah tembok sangat jarang, maka kegelapan sedikit terbantu dengan cahaya lampu cempor yang menembus dinding bilik di dekat jalan. Tetapi rumah-rumah tidak terlalu banyak ketika itu, di mana-mana terlihat kebun. Dengan jurig mengintip dari sela-sela pohon. Mungkin mereka tertarik dengan anak kecil yang memakai sarung dan berkopiah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!