SKETSA | Tank vs Hoax
Berita-berita ini diproduksi oleh pers Barat yang maksudnya untuk manas-manasin penduduk dunia. Termasuk orang Indonesia, sehingga banyak yang bertanya – bagaimana kalau Australia tiba-tiba ada di Timor Leste. Apa yang harus kita lakukan? Saya jawab ya gapapa dong, biar saja tentara Australia dikasih makan Sei Sapi oleh penduduk setempat, mudah-mudahan mereka tidak sakit perut. Berita palsu digoreng oleh Amerika, agar orang berempati kepada Ukraina. Namun tetap saja, Barat dan PBB hanya jadi penonton ketika Putin merajalela di Ukraina. Biden pun sudah tidak kedengaran lagi suaranya. Jokowi suaranya tidak jelas dalam kasus ini, dengan suara lirih, ia mengatakan, “janganlah berperang, karena perang merugikan rakyat.”
Dalam pengamatan saya, masyarakat dunia lebih suka Putin yang penampilan fisiknya masih oke. Ia pinter yudo, karate, menembak, berkuda, menyelam, nyanyi, dan main cewek. Belum lagi perutnya six pack, yang suka dipamerkannya kalau berfoto sambil telanjang dada. Berbeda dengan kita, six pack in one bundle, alias perut buncit, karena kebanyakan makan tutug oncom. Bayangkan dengan Presiden Ukraina yang mantan pelawak, itu kan kalau dibandingkan dengan Putin, sama saja James Bond melawan Cak Lontong. Ga seru banget yak. Di Jerman, contohnya, politikus di sana tak ingin ada perang besar di tanah Eropa seperti yang diinginkan AS. Mereka tidak begitu bodoh untuk bergabung dengan Amerika untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia. Menurut Jerman, biang keladi Perang di Ukraina bukanlah Rusia, tetapi Amerika dan NATO. Sementara di internal Ukraina sendiri ada perpecahan, sejak 2014 sudah ada 2 propinsi yang ingin pisah karena lebih setia kepada Rusia, yaitu Donetsk dan Luhansk. Dengan perang ini, Putin kemudian menyetujui kedua wilayah itu bergabung dengan Rusia, mengikuti Krimea – disebelah Selatan Ukraina - yang sudah dicaplok terlebih dahulu oleh Putin.

Kasus separatis Donetsk dan Luhansk harus kita cermati, jangan sampai menjadi contoh untuk pecahnya kesatuan Negara Indonesia. Menurut pengamatan Connie Rahakundini Bakrie, banyak orang-orang di Maluku, Timor dan Papua lebih merasa menjadi keluarga Pasifik (Polinesia) ketimbang Indonesia. Bisa jadi kalau terjadi perang dunia, tiba-tiba Indonesia Timur ingin jadi negara sendiri. Amit-amit jabang bayi jangan sampai itu terjadi. Karenanya mari kita dukung Pak Jokowi yang rajin membangun Papua agar infrastrukturnya sama majunya dengan Jawa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!