Destinasi Pantai Paling Membahagiakan di Dunia Versi JustCover 5 Aug 2026 Mariano Peralta Bahagia Jalani Debut Manis Bersama Persib 5 Aug 2026 Pemerintah Umumkan Rangkaian Acara HUT Ke-81 RI 2026 5 Aug 2026 "Cahaya Hati" Debut, Warnai Pagelaran Sabang Merauke 2026 5 Aug 2026 Kades Rancaekek Kulon Buka Suara soal Polemik PTSL Rp.400 Ribu per Pemohon 5 Aug 2026 Satpol PP Ungkap Alasan Vendor SixNine Padel Tebang 10 Pohon 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026 Destinasi Pantai Paling Membahagiakan di Dunia Versi JustCover 5 Aug 2026 Mariano Peralta Bahagia Jalani Debut Manis Bersama Persib 5 Aug 2026 Pemerintah Umumkan Rangkaian Acara HUT Ke-81 RI 2026 5 Aug 2026 "Cahaya Hati" Debut, Warnai Pagelaran Sabang Merauke 2026 5 Aug 2026 Kades Rancaekek Kulon Buka Suara soal Polemik PTSL Rp.400 Ribu per Pemohon 5 Aug 2026 Satpol PP Ungkap Alasan Vendor SixNine Padel Tebang 10 Pohon 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026

SKETSA | Tank vs Hoax

ED
Kamis, 10 Maret 2022 | 06:45 WIB
Bagikan
SKETSA | Tank vs Hoax

Oleh Syakieb Sungkar

DENGAN tertutupnya perbatasan Ukraina dari pers Barat, maka para wartawan membuat berita ngarang bebas untuk kejar setoran ke Redaksi. Karena mereka tidak enak hati sudah jauh-jauh dikirim dari New York, kemudian ujungnya berakhir nongkrong sambil ngopi-ngopi dengan tentara NATO yang juga sedang bete di perbatasan. Untungnya pada setiap tank NATO, para tentara itu dibekali kartu domino dan samak dari Markas Besar negara masing-masing. Wartawan yang mau ikutan dipersilahkan, asal rela wajahnya dicontreng dengan oli dari roda tank yang ada rantainya itu, kalau kartunya malitek. Sambil main gapleh dengan tentara NATO yang pengangguran itu, para wartawan Barat akhirnya membuat berita-berita palsu.

Kim Iversen, misalnya, ia seorang wartawati merangkap youtuber dan host radio dari Idaho, Amerika Serikat, menyebarkan foto Presiden Ukraina, Zelenskyy, yang sedang berada di garis depan bertempur dengan Rusia, lengkap dengan baju militer yang dikenakannya. Ternyata foto itu berasal dari kantor berita Routers yang meliput Zelenskyy sedang inspeksi tentaranya setahun yang lalu, tepatnya pada 21 April 2021. Sementara Zelenskyy nya sendiri saat ini masih raib entah di mana, sambil sebentar-sebentar menyiarkan berita kemenangan Ukraina. Demikian pula Bill, seorang reporter politik internasional dari Jerman, menyebarkan video palsu pengeboman Rusia di kota Kiev. Ternyata video tersebut adalah video ledakan pabrik Kimia di Tienjien, China tahun 2015. Seorang broadcaster dari Italia berbuat hal yang serupa, ia menyebarkan video pesawat tempur Rusia terbang di langit Ukraina disertai hujan missile berhamburan, ternyata itu adalah sebuah video game bernama “War Thunder”. Alex Marquardt mengirimkan sebuah berita yang mengatakan ada 13 tentara Ukraina yang sudah menyerah tetap saja dibunuh, kenyataannya memang ada tentara Ukraina yang menyerah tetapi jumlahnya bukan 13 tetapi 82, itu pun oleh Rusia diberi makan dan dipersilahkan pulang ke keluarganya masing-masing. Ada lagi video tank Rusia berkeliaran di jalan raya dan melindas mobil dari penduduk sipil. Ternyata realitas sebenarnya terbalik, justru tank itu punya tentara Ukraina yang kehilangan kontrol. Untungnya pengendara mobil selamat walau kendaraannya ringsek. Video palsu yang mengharukan juga ada, yaitu adegan perpisahan bapak dengan anak dan istrinya karena ia akan berjuang melawan tentara Rusia. Cerita yang benar adalah si bapak mengirimkan keluarganya ke Rusia, karena ia ingin memerangi Ukraina. Berita yang seru juga adalah video yang menggambarkan 6 pesawat tempur Rusia yang dijatuhkan pilot wanita Ukraina dalam satu hari dog fight. Luar Biasa. Video itu sesungguhnya berasal dari video game yang bernama “Digital Combat Simulator”.

Berita-berita ini diproduksi oleh pers Barat yang maksudnya untuk manas-manasin penduduk dunia. Termasuk orang Indonesia, sehingga banyak yang bertanya – bagaimana kalau Australia tiba-tiba ada di Timor Leste. Apa yang harus kita lakukan? Saya jawab ya gapapa dong, biar saja tentara Australia dikasih makan Sei Sapi oleh penduduk setempat, mudah-mudahan mereka tidak sakit perut. Berita palsu digoreng oleh Amerika, agar orang berempati kepada Ukraina. Namun tetap saja, Barat dan PBB hanya jadi penonton ketika Putin merajalela di Ukraina. Biden pun sudah tidak kedengaran lagi suaranya. Jokowi suaranya tidak jelas dalam kasus ini, dengan suara lirih, ia mengatakan, “janganlah berperang, karena perang merugikan rakyat.”

Dalam pengamatan saya, masyarakat dunia lebih suka Putin yang penampilan fisiknya masih oke. Ia pinter yudo, karate, menembak, berkuda, menyelam, nyanyi, dan main cewek. Belum lagi perutnya six pack, yang suka dipamerkannya kalau berfoto sambil telanjang dada. Berbeda dengan kita, six pack in one bundle, alias perut buncit, karena kebanyakan makan tutug oncom. Bayangkan dengan Presiden Ukraina yang mantan pelawak, itu kan kalau dibandingkan dengan Putin, sama saja James Bond melawan Cak Lontong. Ga seru banget yak. Di Jerman, contohnya, politikus di sana tak ingin ada perang besar di tanah Eropa seperti yang diinginkan AS. Mereka tidak begitu bodoh untuk bergabung dengan Amerika untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia. Menurut Jerman, biang keladi Perang di Ukraina bukanlah Rusia, tetapi Amerika dan NATO. Sementara di internal Ukraina sendiri ada perpecahan, sejak 2014 sudah ada 2 propinsi yang ingin pisah karena lebih setia kepada Rusia, yaitu Donetsk dan Luhansk. Dengan perang ini, Putin kemudian menyetujui kedua wilayah itu bergabung dengan Rusia, mengikuti Krimea – disebelah Selatan Ukraina - yang sudah dicaplok terlebih dahulu oleh Putin.

Kasus separatis Donetsk dan Luhansk harus kita cermati, jangan sampai menjadi contoh untuk pecahnya kesatuan Negara Indonesia. Menurut pengamatan Connie Rahakundini Bakrie, banyak orang-orang di Maluku, Timor dan Papua lebih merasa menjadi keluarga Pasifik (Polinesia) ketimbang Indonesia. Bisa jadi kalau terjadi perang dunia, tiba-tiba Indonesia Timur ingin jadi negara sendiri. Amit-amit jabang bayi jangan sampai itu terjadi. Karenanya mari kita dukung Pak Jokowi yang rajin membangun Papua agar infrastrukturnya sama majunya dengan Jawa.

Kembali ke urusan Ukraina, ada sebuah laporan dari seorang netizen Barat yang sedang di Kiev pada tanggal 28 Februari 2022. Ternyata Kiev itu baik-baik saja, tidak hancur lebur seperti dalam berita-berita palsu yang disebarkan Barat. Justru yang konyol adalah Zelenskyy itu sendiri yang membagi-bagikan senjata militer kepada orang-orang kriminal di Kiev. Dengan senjata itu mereka merampok dan memperkosa, kemudian kejahatan itu dituduhkan sebagai perbuatan Rusia. Sungguh suatu lawakan serius dari Presiden Ukraina. Demikianlah cara Zelenskyy melawan tank Rusia, cara membalasnya dengan memproduksi berita hoax bersama-sama pers Barat, agar masyarakat dunia membantunya. Karenanya Putin ingin Zelenskyy segera jatuh dan Rusia memilih presiden yang pro dengan Putin, atau menjadi boneka Rusia. Dengan itu perang berakhir, harga gandum - yang Indonesia ternyata banyak mengimpor dari Ukraina – turun. Sehingga hobi saya makan Indomie tidak lagi terkendala oleh harga yang melonjak.***

  • Penulis adalah seorang pengamat seni, dan pernah menjadi executive di beberapa perusahaan telekomunikasi. Ia pernah kuliah di FMIPA – Universitas Indonesia (1981), lulus dari Elektro Telekomunikasi – Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020). Dan pernah membuat buku “Melacak Lukisan Palsu” (2018) dan “Seni Sebagai Pembebasan” (2022). Pernah berpameran tunggal lukisan di galeri Titik Dua, Ubud (2021), berpameran bersama di galeri Salihara bersama Goenawan Mohamad (2020). Saat ini ia menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi – jurnaldekonstruksi.id

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.