SKETSA | SBM - ITB
Surat Rektor itu bertanggal 7 Januari 2019, setahun kemudian, tepatnya 20 Januari 2020 - Rektor sudah berganti dengan Rektor baru, Prof. Ir. Reini Wirahadikusumah, MSCE, PhD., dan sekarang sudah bulan Maret 2022. Pertanyaannya adalah kemane aje lu selama 3 tahun? Surat Rektor bukannya cepat-cepat diurus dan ditindaklanjuti, tetapi SBM malah melakukan business as usual baik di zaman Rektor lama maupun Rektor yang sekarang. Setelah 2 tahun, barangkali Rektor yang sedang menjabat ini merasa capek juga ngurusin otonomi SBM, jadi cara gampangnya adalah cabut saja sistem pengelolaan pendidikan Swakelola dan Swadaya seperti yang dilaksanakan sekarang, sehingga pengelolaan SBM kembali ke bentuk Fakultas yang biasa.
Kasus ini perlu kita renungkan secara mendalam, apalagi di zaman Mas Mendikbud yang ganteng dan pintar itu sedang menjabat. Mas Menteri mencanangkan program Kampus Merdeka. Harusnya keberadaan SBM itu sejalan dengan jiwa Kampus Merdeka. Apa yang sudah dirintis oleh Kusmayanto Kadiman, jangan dibuang. Karena itu sebuah uji coba dari kemandirian Perguruan Tinggi. Tugas kita adalah melanjutkan warisan yang sudah bagus itu. Hal-hal yang perlu diselaraskan dengan aturan Pemerintah, harus diselesaikan sambil dinegosiasikan. Agar kemandirian SBM tetap terjaga. Di mana BPK sudah tidak mempertanyakan lagi pelaksanaan operasionalisasinya karena sudah confirm dengan aturan. SBM juga harus bekerja keras mensolusikan masalah ini, justru kasus ini merupakan ujian bagi SBM yang harusnya expert dalam Business & Management, sesuai dengan nama sekolahnya. Janganlah kalau ada permasalahan atau keinginannya tidak dituruti, terus pundung. Hal itu akan merusak citra SBM sendiri. Saya mendoakan, SBM agar statusnya dikembalikan seperti semula, sehingga tetap excellent dan canggih.***
- Penulis adalah seorang pengamat seni, dan pernah menjadi executive di beberapa perusahaan telekomunikasi. Ia pernah kuliah di FMIPA – Universitas Indonesia (1981), lulus dari Elektro Telekomunikasi – Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020). Dan pernah membuat buku “Melacak Lukisan Palsu” (2018) dan “Seni Sebagai Pembebasan” (2022). Pernah berpameran tunggal lukisan di galeri Titik Dua, Ubud (2021), berpameran bersama di galeri Salihara bersama Goenawan Mohamad (2020). Saat ini ia menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi – jurnaldekonstruksi.id
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!