SKETSA | Rokok

ED
Kamis, 21 April 2022 | 06:00 WIB
Bagikan
SKETSA | Rokok

Oleh Syakieb Sungkar

KETIKA 15 Januari 1974 itu, hujan besar. Saya kelas 1 SMP. Jalan Pejompongan macet total karena PDAM sedang menggali gorong-gorong dan ada pengalihan arus dari Jl. Sudirman yang sedang ditutup tentara. Katanya, gedung ASTRA dibakar oleh mahasiswa. Saya dan 2 teman saya, Muji dan Agus, yang rumahnya di Tanah Abang, kesal. Sekolah tiba-tiba dibubarkan tetapi susah pulang: gerimis, becek dan tidak ada kendaraan umum. Akhirnya kami berteduh pada warung kopi di pinggiran Kuburan Karet Bivak. Agus dan Muji mengeluarkan rokok dari tasnya, disodorkan sebatang untuk saya, sejak hari itu saya mulai merokok.

Kegiatan merokok yang iseng di siang itu, kemudian berlanjut sampai tahun 1995. Lumayan, pengalaman merokok saya 21 tahun. Karir saya dimulai dari Gudang Garam, Djarum, Djie Sam Soe, Marlboro, dan berakhir dengan Sampoerna A Mild. Rekor saya merokok Sampoerna itu 4 bungkus sehari. Padahal 1 bungkus isinya 16 batang. Jadi paru-paru saya setiap hari mengkonsumsi 64 batang rokok. Saya tidak merokok ketika sedang tidur saja. Itu berarti 16 jam sehari, paru-paru disemprot dengan nikotin. Kalau 16 jam dibagi 64 batang, artinya setiap 15 menit saya menyalakan rokok.

Setelah 21 tahun merokok, saya mulai merasakan akibatnya. Di tahun 1995 saya batuk sepanjang hari dan malam. Segala macam obat batuk saya coba, tidak ada yang mempan. Akhirnya saya ke dokter spesialis paru, namanya Prof. Dr. Tadjoedin, dia juga Kepala Rumah Sakit Sumber Waras. Paru-paru saya dirontgen dan didapati ada belt (lapisan) putih di sekujur paru-paru saya. "Paru-paru anda korengan", katanya dengan nada dingin. "Anda boleh pulang", ia melanjutkan.

Saya rada bingung ketika itu, kok langsung pulang, padahal dokter itu belum menuliskan resep. "Obatnya apa dokter?" saya bertanya sambil sedikit menghiba. "Oh itu pneumonia karena merokok, tidak ada obatnya, anda mati saja," katanya dengan datar. "Kalau mau sembuh satu-satunya obat adalah berhenti merokok selama-lamanya." Dokter itu setengah berdiri sebagai isyarat untuk mengusir, maklum di luar kamar praktek sudah banyak pasien menunggu.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.