SKETSA | Robot Trading
Bagaimana cara meramalkan suatu saham naik atau turun? Ada beberapa cara, salah satu caranya adalah dengan memperhatikan grafik. Grafik saham itu utamanya ada yang berupa kurva harga, ada yang berupa candle, dan ada yang berupa kurva volume transaksi. Grafik yang berupa kurva harga akan menunjukkan kepada kita sejarah harga atau nilai suatu saham. Harga saham Astra, ketika artikel ini ditulis, adalah 6400. Harga ini sudah berlangsung stabil lebih dari seminggu. Padahal sebulan lalu, harga saham Astra hanya 5500. Kalau kita membeli saham Astra sebulan yang lalu, hari ini saatnya untuk menjual. Karena kita sudah mendapat margin 16% lebih. Usaha apa coba yang bisa untung 16% dalam sebulan? Kita simpan uang di bank, bunganya paling banter 5% setahun.
Grafik kedua adalah grafik yang berupa candle stick. Candle itu lambang-lambang yang mengindikasikan situasi harga dalam kurun waktu tertentu. Candle memberi kita informasi situasi tarik ulur suatu saham. Candle berlambang cross (silang), artinya market sedang bingung terhadap saham itu. Sebaiknya kita menunggu beberapa saat agar candle itu berubah lambang atau berubah posisi. Jangan bertransaksi dulu terhadap saham itu. Candle berlambang hammer (palu) merupakan suatu petunjuk bahwa saham akan meluncur naik atau turun. Hal itu akan terbaca dengan jelas kalau kita mengkombinasikannya dengan melihat grafik kurva harga. Kalau kurva harganya sudah jenuh seperti Astra tadi, dan siang ini candlenya menunjukkan hammer, maka nilai saham Astra, Insya Allah besok pagi akan meluncur turun. Sehingga kalau ada yang punya saham ini sebaiknya buru-buru jual.
Ada lagi kurva volume transaksi, untuk melihat bagaimana suatu saham ramai atau tidaknya ditransaksikan, tetapi kurva ini tidak mutlak dipakai sebagai pertimbangan. Biasanya kurva ini berguna untuk melihat sentimen market atas saham tersebut. Semakin banyak yang minat, berarti ada sentimen, saham itu akan bergerak lebih cepat. Selain ketiga grafik itu, ada juga pertimbangan seasonality: misalnya saham batubara akan mulai naik pada bulan Oktober karena Eropa sebentar lagi musim dingin, atau saham-saham yang berhubungan dengan konsumsi rumah tangga akan meningkat mengingat bulan puasa sebentar lagi datang.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!