Destinasi Pantai Paling Membahagiakan di Dunia Versi JustCover 5 Aug 2026 Mariano Peralta Bahagia Jalani Debut Manis Bersama Persib 5 Aug 2026 Pemerintah Umumkan Rangkaian Acara HUT Ke-81 RI 2026 5 Aug 2026 "Cahaya Hati" Debut, Warnai Pagelaran Sabang Merauke 2026 5 Aug 2026 Kades Rancaekek Kulon Buka Suara soal Polemik PTSL Rp.400 Ribu per Pemohon 5 Aug 2026 Satpol PP Ungkap Alasan Vendor SixNine Padel Tebang 10 Pohon 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026 Destinasi Pantai Paling Membahagiakan di Dunia Versi JustCover 5 Aug 2026 Mariano Peralta Bahagia Jalani Debut Manis Bersama Persib 5 Aug 2026 Pemerintah Umumkan Rangkaian Acara HUT Ke-81 RI 2026 5 Aug 2026 "Cahaya Hati" Debut, Warnai Pagelaran Sabang Merauke 2026 5 Aug 2026 Kades Rancaekek Kulon Buka Suara soal Polemik PTSL Rp.400 Ribu per Pemohon 5 Aug 2026 Satpol PP Ungkap Alasan Vendor SixNine Padel Tebang 10 Pohon 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026

SKETSA | Oligarki

ED
Kamis, 26 Mei 2022 | 06:00 WIB
Bagikan
SKETSA | Oligarki

Oleh Syakieb Sungkar

OLIGARKI adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya diatur oleh sekelompok kecil elit. Elit itu jumlahnya sedikit, berkuasa karena mempunyai kekayaan yang besar, anggota keluarga dari penguasa, dinasti atau militer. Sesuai dengan asal katanya, oligon – yang berarti sedikit, dan arkho yang artinya memerintah. Mengapa di negara demokrasi yang katanya kekuasaan berada di tangan rakyat dan presidennya terpilih karena pemilihan umum, kok bisa-bisanya ketika berkuasa pada akhirnya hanya sedikit orang yang menentukan jalannya roda pemerintahan? Jawabnya adalah, karena sistem demokrasi telah menyebabkan rakyat memilih berdasarkan suara terbanyak.

Plato tidak suka dengan demokrasi, menurutnya demokrasi telah menyebabkan orang-orang yang pandai bicara (tapi tidak bisa bekerja), para orator, para demagog, yang piawai dalam bersilat kata, dapat memanipulasi pendapat rakyat sehingga memilih dirinya menjadi pemimpin. Sementara, rakyat yang pemikirannya kurang kritis dan cenderung nrimo, memilih pemimpin berdasarkan penampilan fisik dan cara bicaranya saja. Dalam “The Republic” buku IV, Plato menceritakan tentang Socrates yang sempat bercakap-cakap dengan seseorang bernama Adeimantus. Socrates mencoba menunjukan berbagai kekurangan demokrasi kepada Adeimantus, dengan cara membandingkan sebuah masyarakat dengan sebuah kapal. “Kalau anda sedang berpergian naik kapal, siapa yang menurut anda paling ideal untuk memimpin kapal? Siapa saja boleh, atau orang-orang yang berpendidikan dalam menghadapi aturan dan kerumitan perjalanan laut?”. “Tentu saja yang kedua”, jawab Adeimantus.

Kemudian Socrates merespon, “Lalu mengapa kita terus berpikir bahwa semua orang, siapa saja, boleh menilai siapa yang akan menjadi pemimpin sebuah negara?” Maksud Socrates adalah bahwa dalam memilih seorang pemimpin pada sebuah pemilihan umum harus didasarkan pada pengetahuan yang seksama atas calon pemimpin tersebut. Karena dalam demokrasi kita tidak pernah atau jarang berpikir secara mendalam dan matang tentang siapa yang akan kita pilih. Belum lagi dalam demokrasi – menurut Plato - seseorang diberikan kebebasan yang sangat besar tanpa adanya aturan yang mengarahkan kebebasan itu, ia mengatakan bahwa dengan demokrasi pada akhirnya akan timbul negara tirani. Negara ideal menurut Plato adalah negara aristokrasi dimana negara dipegang oleh sejumlah orang yang bijaksana. Sebagaimana di Iran sekarang, di atas Presiden ada sekumpulan orang yang disebut Waliyatul Faqih, sekumpulan orang-orang pintar yang mengatur arah dan kebijaksanaan negara. Sementara Presiden hanya merupakan eksekutor atas kebijakan yang sudah ditetapkan Waliyatul Faqih itu.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.