SKETSA | Keluarga Kucing
Oleh Syakieb Sungkar
SUDAH 18 tahun saya memelihara kucing. Mulanya saya sangat reluktan memelihara binatang. Karena ayah saya sangat keras dalam urusan ini. Menurutnya, binatang itu sebaiknya dibiarkan bebas, tidak boleh dipenjara dalam sangkar. Ia sangat anti untuk memelihara burung, ayam, monyet, apalagi kucing. Namun suatu hari, ketika pulang sekolah, anak saya menemukan bayi kucing yang terlantar di jalanan. Sebagai anak SMP, ia takut untuk melaporkan telah memungut kucing dan memeliharanya dalam kamar. Memang di dalam kamar anak saya ada kulkas kecil sehingga ia bisa mengambil susu dari dapur dan menyimpannya di sana. Bayi kucing itu diberinya susu agar bisa hidup dan besar. Lamat-lamat kami mendengar suara kucing di lantai atas, tetapi tidak ada yang tahu sumbernya dari mana.
Sampai suatu hari saya mendapat tugas ke Singapura. Dan saya mengajak anak dan istri untuk ikut jalan-jalan ke sana. Setelah satu minggu di sana, pembantu saya melaporkan menemukan bangkai kucing di kamar. Jadi terjawablah sudah mengapa selama ini kami mendengar suara kucing. Bayi kucing itu mati karena disekap di kamar dan tidak diberi makan. Setelah kejadian itu kami rembugan untuk membelikan kucing biar dipelihara anak saya. Kucing itu jenis Siam, bulunya coklat indah. Saya memberinya nama Wolverine. Setelah mempunyai Wolverine, ada kesibukan baru di rumah, yakni menyediakan bak pasir untuk dia berak dan menggantinya tiap hari. Ditambah dengan memberi makan 3 X sehari. Makanan itu ada yang berbentuk lembek dan ada yang berupa crackers.
Praktis anak saya hanya memelihara kucing selama 3 tahun, karena ia kemudian bersekolah di Australia. Setelah kembali ia justru membeli kucing baru jenis Siam juga berwarna putih. Kami memberi nama Si Putih. Tak lama kemudian anak saya melanjutkan sekolahnya di Belanda, sehingga kami “ketempuan” memelihara dua kucing di rumah. Tidak hanya itu saja, setahun kemudian istri saya diberi hadiah kucing jenis Anggora oleh ipar. Kucing itu bernama Robi. Robi berwarna putih, mempunyai bulu yang lebat dan panjang. Rupanya dalam dunia kucing ada senioritas. Terlihat Wolverine yang tertua di rumah, Putih sebagai yuniornya, dan Robi sebagai “anak baru”. Jadi kalau Putih membuat kegaduhan, Wolverine akan memukul kepala Putih, lalu Putih membalas pemukulan itu bukan ke Wolverine tetapi ke Robi. Demikian pula posisi duduk masing-masing. Kalau Wolverine duduk di kursi maka keduanya harus duduk di lantai. Hal yang sama terjadi kalau disediakan makan, mereka sudah tahu siapa duluan yang harus makan dan siapa yang mendapat jatah belakangan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!