"Cahaya Hati" Debut, Warnai Pagelaran Sabang Merauke 2026 5 Aug 2026 Kades Rancaekek Kulon Buka Suara soal Polemik PTSL Rp.400 Ribu per Pemohon 5 Aug 2026 Satpol PP Ungkap Alasan Vendor SixNine Padel Tebang 10 Pohon 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026 Ahli Gizi Ungkap Pilihan Sarapan yang Bantu Tingkatkan Energi Tubuh 5 Aug 2026 Ekspedisi 22 Hari Ungkap Keanekaragaman Laut Dalam di Samudra Hindia 5 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia vs Singapura, Penentu Tiket Semifinal AFF 2026 5 Aug 2026 "Cahaya Hati" Debut, Warnai Pagelaran Sabang Merauke 2026 5 Aug 2026 Kades Rancaekek Kulon Buka Suara soal Polemik PTSL Rp.400 Ribu per Pemohon 5 Aug 2026 Satpol PP Ungkap Alasan Vendor SixNine Padel Tebang 10 Pohon 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026 Ahli Gizi Ungkap Pilihan Sarapan yang Bantu Tingkatkan Energi Tubuh 5 Aug 2026 Ekspedisi 22 Hari Ungkap Keanekaragaman Laut Dalam di Samudra Hindia 5 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia vs Singapura, Penentu Tiket Semifinal AFF 2026 5 Aug 2026

SKETSA | Keluarga Kucing

ED
Sabtu, 3 September 2022 | 07:00 WIB
Bagikan
SKETSA | Keluarga Kucing

Oleh Syakieb Sungkar

SUDAH 18 tahun saya memelihara kucing. Mulanya saya sangat reluktan memelihara binatang. Karena ayah saya sangat keras dalam urusan ini. Menurutnya, binatang itu sebaiknya dibiarkan bebas, tidak boleh dipenjara dalam sangkar. Ia sangat anti untuk memelihara burung, ayam, monyet, apalagi kucing. Namun suatu hari, ketika pulang sekolah, anak saya menemukan bayi kucing yang terlantar di jalanan. Sebagai anak SMP, ia takut untuk melaporkan telah memungut kucing dan memeliharanya dalam kamar. Memang di dalam kamar anak saya ada kulkas kecil sehingga ia bisa mengambil susu dari dapur dan menyimpannya di sana. Bayi kucing itu diberinya susu agar bisa hidup dan besar. Lamat-lamat kami mendengar suara kucing di lantai atas, tetapi tidak ada yang tahu sumbernya dari mana.

Sampai suatu hari saya mendapat tugas ke Singapura. Dan saya mengajak anak dan istri untuk ikut jalan-jalan ke sana. Setelah satu minggu di sana, pembantu saya melaporkan menemukan bangkai kucing di kamar. Jadi terjawablah sudah mengapa selama ini kami mendengar suara kucing. Bayi kucing itu mati karena disekap di kamar dan tidak diberi makan. Setelah kejadian itu kami rembugan untuk membelikan kucing biar dipelihara anak saya. Kucing itu jenis Siam, bulunya coklat indah. Saya memberinya nama Wolverine. Setelah mempunyai Wolverine, ada kesibukan baru di rumah, yakni menyediakan bak pasir untuk dia berak dan menggantinya tiap hari. Ditambah dengan memberi makan 3 X sehari. Makanan itu ada yang berbentuk lembek dan ada yang berupa crackers.

Praktis anak saya hanya memelihara kucing selama 3 tahun, karena ia kemudian bersekolah di Australia. Setelah kembali ia justru membeli kucing baru jenis Siam juga berwarna putih. Kami memberi nama Si Putih. Tak lama kemudian anak saya melanjutkan sekolahnya di Belanda, sehingga kami “ketempuan” memelihara dua kucing di rumah. Tidak hanya itu saja, setahun kemudian istri saya diberi hadiah kucing jenis Anggora oleh ipar. Kucing itu bernama Robi. Robi berwarna putih, mempunyai bulu yang lebat dan panjang. Rupanya dalam dunia kucing ada senioritas. Terlihat Wolverine yang tertua di rumah, Putih sebagai yuniornya, dan Robi sebagai “anak baru”. Jadi kalau Putih membuat kegaduhan, Wolverine akan memukul kepala Putih, lalu Putih membalas pemukulan itu bukan ke Wolverine tetapi ke Robi. Demikian pula posisi duduk masing-masing. Kalau Wolverine duduk di kursi maka keduanya harus duduk di lantai. Hal yang sama terjadi kalau disediakan makan, mereka sudah tahu siapa duluan yang harus makan dan siapa yang mendapat jatah belakangan.

Selain memberi makan dan membersihkan pasir, ada juga kesibukan tambahan yaitu memanggil orang dari salon kucing untuk memandikan ketiganya. Walau mereka tidak diperbolehkan keluar rumah, namun kebersihan tetap dijaga. Dan membawanya ke dokter apabila ada kucing yang mencret atau muntah. Tetapi Putih tidak berumur panjang, karena mengidap cancer mulut. Demikian pula Robi, ia menyusul setahun kemudian, menurut dokter ia sakit ginjal. Sejak itu Wolverine tidak lagi diberikan air ledeng, tetapi diberi Aqua untuk minumnya. Menurut dokter, kandungan mineral air pump di rumah kami sangat tinggi, maklum perumahan yang kami tempati dulunya adalah sebuah danau yang diurug. Jadi banyak sedimen yang bercampur ke dalam air tanah. Kucing ras biasanya sangat rentan dengan kesehatan ginjal, jadi pasokan airnya harus dijaga.

Upaya memelihara Wolverine cukup sukses, usianya mencapai 14 tahun, ia kemudian mati karena tua. Setelah 1 tahun tidak ada kucing di rumah, kebiasaan istri saya memelihara kucing rupanya tidak bisa dihentikan. Ia suka memberi makan kucing kampung yang berkeliaran di sekitar rumah. Setelah kegiatan memberi makan berjalan cukup lama, akhirnya kami mengadopsi salah satu kucing kampung itu. Kucing itu jenis American Shorthair, istilah keren untuk kucing kampung yang berbulu tebal dan berwajah lucu dengan kumis yang panjang. Ia kami beri nama Si Kuning, karena warnanya. Kuning mempunyai jam tidur yang panjang, sekitar 18 jam sehari. Ia suka menonton TV dan menduduki apa saja yang sedang saya pegang: buku tulis, majalah, komputer, dan piringan hitam. Rupanya ia ingin saya fokus memperhatikan dirinya saja.

Memang saya punya kebiasaan tidur larut dan butuh mendengar musik serta membaca buku untuk bisa mengantuk. Sehingga, agar tidak mengganggu tidur istri, kalau malam saya mengungsi ke kamar atas sampai tertidur. Kuning biasanya menggedor-gedor kamar atas agar bisa ikut tidur bersama. Praktis saya lebih sering tertidur dengan Kuning ketimbang bersama istri. Ia juga kucing yang cerdas, hampir kami saling mengerti apa yang dimaksudkan satu sama lain. Walau dengan kode-kode yang sederhana. Cerita tentang Nabi Sulaiman yang bisa berbicara dengan binatang, benar adanya.

Saya kadang-kadang berpikir, dengan begitu banyak kucing yang hidup bersama kami, dan mereka mati mendahului, apakah nanti akan bertemu kembali di akherat kelak? Suatu pertanyaan yang konyol tetapi menarik juga untuk direnungkan. Kucing sudah menjadi bagian dari hidup saya, dan kenangannya abadi walau ia tinggal kerangka. Apa yang terjadi dengan saya kalau Kuning mati? Pastinya akan sedih sekali. Ketika saya selesai mandi, berpakaian rapi dan minum kopi sambil memandang ke jendela, saya berharap Kuning akan terus menemani, dengan leyeh-leyeh di lantai atau tertidur di tumpukan buku. Walau ketika Kuning kelak tiada, istri saya akan mengadopsi kucing lagi, ibarat seorang ibu yang terus mengandung dan dari rahimnya keluar kucing yang baru. Tetapi saya masih berharap Kuning akan berumur panjang dan dapat menemani saya selama-lamanya.

Setelah selesai sekolah di Belanda, anak saya kemudian bekerja di luar kota. Sehingga kami praktis hidup cuma berdua saja, bersama kucing di rumah tentunya. Kuning hampir menjadi pengganti anak saya, suatu naluri untuk merawat yang tak pernah hilang dan disalurkannya ke kucing.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.