SKETSA | Ferdy Sambo
Skenario sinetron “Polisi Tembak Polisi” merupakan kolaborasi antara Ferdy Sambo dengan Fahmi Alamsyah, seorang petinggi Polri dan sahabat dekat Ferdy. Namun karena waktu penggarapan skenario sinetron tersebut terlalu singkat sehingga kita sebagai penonton dapat melihat bahwa banyak adegan dan logika cerita kurang mulus. Misalnya, penggunaan istilah “pelecehan dengan pistol” yang dilakukan Brigadir J juga kurang pas dan tidak cukup logis dilihat penonton. Kalau digunakan istilah “penodongan dengan pistol” itu terlihat wajar, sedangkan “pelecehan dengan pistol” itu agak sulit untuk dibayangkan oleh pemirsa. Bagaimanapun orang akan melecehkan wanita bukan dengan pistol bukan? Tapi dengan benda yang lain. Demikian pula dengan pengadeganan, mengingat waktu latihan kurang maka dalam deskripsi yang dilakukan Eliezer terlihat berubah-ubah, hal ini yang menyebabkan akting Bharada E kurang meyakinkan.
Alhasil polisi melakukan langkah memutar dengan mengancam ke 25 orang kru film tersebut, dan hasilnya mulai didapati kejadian yang sebenarnya, sehingga Ferdy Sambo kemudian ditangkap karena menghilangkan barang bukti. Pengacara yang baru ini, Deolipa Yumara, terlihat jujur apa adanya, kemampuannya membujuk Eliezer telah menyebabkan ditangkapnya Bripka Ricky dengan tuduhan sebagai pembunuhan berencana. Dan jelas diungkapkan oleh Deolipa bahwa Eliezer bertindak seperti itu karena disuruh atasan. Kalau sudah begini sinetron akan segera berakhir dan Ferdy Sambo sebentar lagi juga diadili dan masuk penjara seumur hidup. Memang sayang, seorang dengan karir cemerlang, mempunyai kekuasaan besar, dan jabatan mentereng, yang seharusnya bisa menjadi Kapolri yang berikutnya, akan berakhir dengan tragedi menembak anak buahnya sendiri. Ada apa? Sinetron apa lagi di balik ini semua? Mari kita tonton cerita-cerita selanjutnya. Penonton harap bersabar.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!