SKETSA | Churchill
Mulanya Raja George VI kurang begitu suka kepada Churchill yang berangasan dan bermulut tajam. Namun masalahnya hanya Churchill lah yang dianggap mampu untuk menggerakkan prajurit dan rakyat agar mempunyai semangat juang melawan Hitler. Inggris yang saat itu kekurangan uang dan amunisi telah membuat tugas Churchill menjadi berat. Namun ia tidak kehilangan akal, Churchill membujuk Amerika untuk memberikan bantuan persenjataan kepada Inggris. Mulanya Amerika menolak tetapi pada akhirnya mereka turun ke gelanggang membantu Eropa. Hubungan Churchill dengan George VI menjadi membaik setelah mereka bahu membahu dalam menggerakan rakyat dan tentara. Perang Dunia II berakhir dengan Inggris menjadi pemenang dan pemimpin Eropa.
Churchill masih berkuasa sampai tahun 1955. Ketika itu Perang Dunia II sudah 10 tahun berlalu, rakyat sudah bosan dengan gaya kepemimpinan Churchill dan menginginkan adanya era baru yang lebih segar dan muda. Disamping itu kesehatan Churchill mulai memburuk, dan ia meninggal pada 24 Januari 1965 setelah mendapat serangan stroke yang ke sekian kalinya. Peti matinya diletakkan di gedung DPR selama 3 hari agar rakyat berkesempatan memberikan penghormatan terakhir. Jenazahnya kemudian diusung dengan perahu melalui Sungai Thames menuju Stasiun Waterloo. Ia kemudian dikebumikan di pekuburan Bladon, dekat rumah kelahirannya, kastil Blenheim. Pada tahun 1973 Pemerintah membuatkan patung untuknya di Parlemen Square, untuk mengenang jasanya kepada Inggris dan dunia Barat yang didukungnya.***
- Penulis, pengamat seni dan pernah menjadi juri dalam Bandung Contemporary Art Award (BaCAA), mantan executive di beberapa perusahaan telekomunikasi, pernah bersekolah di FMIPA - Universitas Indonesia (1981), Elektro Telekomunikasi - Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020), menulis buku "Melacak Lukisan Palsu" (2018), dan buku "Seni Sebagai Pembebasan" (2022), pernah berpameran tunggal lukisan di Galeri Titik Dua, Ubud (2021), saat ini menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi (jurnaldekonstruksi.id).
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!