SKETSA | Churchill
Tugasnya sebagai Menhankam diantaranya adalah melakukan demobilisasi persenjataan dan mengurusi para veteran perang. Kemampuannya mengurus perang dan konflik pada negara – negara koloni Inggris menyebabkan ia diangkat menjadi Menteri Negara Jajahan pada tahun 1921. Sementara itu ia suka melukis di sela-sela kehidupannya sebagai birokrat. Bakat melukisnya kemudian ia pamerkan di Paris dalam pameran tunggal pada tahun itu juga di sebuah galeri dengan menggunakan nama palsu. Mungkin ia malu kalau ketahuan koleganya bahwa di balik sikapnya yang garang, ternyata ia mempunyai selera artistik juga. Pada tahun 1923 Partai Buruh memenangkan Pemilu dan Churchill menjadi oposisi partai itu karena kebijakannya meminjamkan uang kepada Uni Soviet serta membuat pakta damai dengan negeri Komunis itu. Sehingga ia harus hengkang dari Kabinet. Pada tahun 1924 Churchill bergabung kembali dengan Konservatif demi membujuk partai itu mendukung prinsip perdagangan bebas.
Selama 10 tahun sejak itu, Churchill tidak punya jabatan di Pemerintahan, ia nyaris pengangguran, hanya aktif menjadi anggota DPR dan menulis. Ia menulis biografi leluhurnya, John Churchill sebanyak 4 jilid dan menulis otobiografinya, “My Early Life” pada tahun 1930. Buku itu laku keras dan diterjemahkan dalam banyak bahasa, sehingga ia mendapat cukup uang. Tetapi dasarnya ia seorang pemboros, maka hidupnya hampir bankrut. Tahun 1933 adalah titik balik dalam hidupnya ketika Hitler menjadi penguasa di Jerman. Ia mulai mengkampanyekan serangan terhadap Hitler dan memberikan alarm bahwa Hitler akan mempersenjatai Jerman, menguasai Eropa dan pada akhirnya akan menyerang Inggris. Untuk itu ia aktif menulis di koran dan mendapat penghasilan dari sana.
Koar-koar Churchill di koran dan Parlemen tentang bahaya Hitler, tidak disenangi oleh anggota Kabinet yang lebih suka berdamai saja dengan Jerman. Namun kemudian prediksinya terbukti, Jerman mulai berperang dengan Inggris pada 3 September 1939. Sehingga ia kemudian diangkat menjadi Menteri Perang. Eskalasi Perang yang demikian cepat, sementara Perdana Menteri Chamberlain yang berkuasa ketika itu lebih ingin membuat pakta damai dengan Jerman, membuat kabinetnya menjadi tidak dipercaya. Sehingga ia kemudian mengundurkan diri dan menyerahkan kursi Perdana Menteri kepada Churchill.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!