SKETSA | Benturan Peradaban (I)
Pada awal 1990-an, Suharto secara eksplisit mengadopsi sebuah kebijakan yang “lebih Islami”. Untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap Islam, para pemimpin pemerintahan – Ozal (Turki), Suharto, Karimov (Uzbekistan) – segera melakukan ibadah haji. Pemerintah-pemerintah di negara Islam juga melakukan Islamisasi hukum. Di Indonesia, konsep-konsep dan praktik-praktik hukum Islam dipadukan dengan sistem hukum sekuler. Hal itu tidak terlepas dari meningkatnya jumlah penduduk di negeri-negeri Muslim dan demokratisasi yang mengiringinya. Pemuda merupakan elemen terpenting dari organisasi Islam dan gerakan-gerakan politik.
Austria, Finlandia, dan Swedia, secara kultural semuanya merupakan bagian dari Barat, dan pada saat terjadi Perang Dingin, bersikap netral. Tetapi begitu Perang Dingin usai dan Rusia runtuh, mereka kemudian bergabung dengan asal-usul budaya mereka dalam Uni Eropa. Negara-negara Katholik dan Protestan bekas anggota Pakta Warsawa, Polandia Hongaria, Republik Chechnya, dan Slovakia, masuk dalam keanggotaan Uni Eropa dan menjadi anggota NATO, begitu pula dengan negara-negara Baltik. Eropa, bagaimanapun juga, tidak menginginkan berdirinya sebuah negara Islam (mewaspadai Turki). Uni Eropa tidak senang jika berdiri sebuah negara Islam kedua (mencurigai Bosnia), di benua Eropa. Turki yang sudah 17 tahun ingin bergabung dengan masyarakat ekonomi Eropa (MEE) sampai sekarang tidak dikabulkan, sementara Slovenia yang baru merdeka dari Yugoslavia pada tahun 1991 sudah dapat masuk dengan mulus pada tahun 2004. Hal ini tidak terlepas dari kecurigaan atau phobia terhadap Turki yang berlatar belakang Islam. Sementara Slovenia yang berlatar Kristen dengan mudah dapat bergabung dengan ‘saudaranya’ dalam Uni Eropa.
Bagaimana reaksi orang Turki ketika ditolak oleh Barat menjadi bagian dari Eropa? Dan bagaimana nasib Indonesia yang mayoritas muslim itu menurut Huntington? Besok kita akan lanjutkan …..***
(Penulis adalah seorang pengamat seni, dan pernah menjadi executive di beberapa perusahaan telekomunikasi. Ia pernah kuliah di FMIPA – Universitas Indonesia (1981), lulus dari Elektro Telekomunikasi – Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020). Dan pernah membuat buku “Melacak Lukisan Palsu” (2018) dan “Seni Sebagai Pembebasan” (2022). Pernah berpameran tunggal lukisan di galeri Titik Dua, Ubud (2021), berpameran bersama di galeri Salihara bersama Goenawan Mohamad (2020). Saat ini ia menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi – jurnaldekonstruksi.id).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!