SKETSA | Benturan Peradaban (I)

ED
Selasa, 1 Maret 2022 | 06:51 WIB
Bagikan
SKETSA |  Benturan Peradaban (I)

Oleh Syakieb Sungkar

PERANG Rusia melawan Ukraina hari ini tiba-tiba membuat orang kembali mengingat buku Huntington tentang The Clash of Civilization. Huntington membagi peradaban di dunia ini menjadi 7 bagian, yaitu Cina, Jepang, Hindu, Islam, Ortodoks, Barat, dan Amerika Latin. Ortodoks adalah peradaban yang berpusat di Rusia. Sementara negeri-negeri Eropa Timur, termasuk Ukraina, walau dahulu merupakan bagian dari Uni Soviet, tidaklah masuk dalam peradaban Ortodoks, tetapi ia masukkan ke dalam peradaban Barat, bersama-sama Eropa dan Amerika. Hal ini jelas membuktikan bahwa Huntington tidak membagi peradaban dalam kategori antropologis dan etnis. Tetapi karena ia adalah ahli politik internasional, maka peradaban dipisahkan berdasarkan kekuasaan atau power. Hal itu yang menyebabkan terjadinya keanehan dalam cara membagi peradaban versi Huntington.

Samuel Phillips Huntington (1927 – 2008) adalah seorang ilmuwan politik Amerika Serikat. Ia adalah Guru Besar sekaligus Ketua Jurusan Ilmu Politik di Universitas Harvard dan Ketua Harvard Academy untuk Kajian Internasional dan Regional, di Weatherhead Center for International Affairs. Ia membuat buku The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order yang ditulisnya tahun 1996. Isinya memperkirakan terjadinya perbenturan antarbudaya, seperti yang kemudian terjadi setelah peristiwa 11 September (pengeboman menara WTC di New York). Berbekal kerangka buku ini banyak orang melihat perang menumpas terorisme sebagai perbenturan kebudayaan Barat dan Timur, sesuai kerangka pikir yang dituliskan Huntington. Buku ini merupakan karya monumentalnya yang menjadi kontroversi dan memicu polemik di berbagai belahan dunia selama lebih dari tiga tahun.

Selain soal keanehan Rusia yang dipisahkannya dari Eropa Timur, peradaban Cina juga mengandung keanehan. Yang dimaksud dengan peradaban Cina menurut Huntington, adalah peradaban yang berporos pada Konfusianisme dan itu tidak terjadi di daratan Cina saja, namun menyebar ke komunitas Cina yang tinggal di Asia Tenggara, serta Vietnam dan Korea. Komentar saya tentang komunitas-komunitas Cina yang tinggal di Asia Tenggara, hal itu seharusnya termasuk juga komunitas Cina yang ada di Malaysia dan Indonesia serta etnis Cina yang menjadi mayoritas di Singapura dan Filipina, namun Huntington tidak menyebutkannya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.