SKETSA | Benturan Peradaban (I)
Istilah Barat ditegaskan kemudian sebagai Eropa, Amerika Utara, Australia, dan Selandia Baru. Terma “Barat” kini secara universal digunakan untuk menunjuk pada apa yang disebut sebagai Kristen Barat. Secara historis, peradaban Barat adalah peradaban Eropa. Mengapa Rusia yang secara agama, budaya dan sejarahnya tidak terlepas dari Eropa kemudian oleh Huntington disebut sebagai Ortodoks, bukan Barat? Barangkali yang dimaksud Huntington sebagai Barat, pada praktisnya adalah negara-negara NATO, suatu definisi Barat yang tidak terlepas dari bias geopolitik, ketimbang kaidah peradaban yang sebenarnya. Peradaban versi Huntington tidak didasarkan pada gejala antropologis, sehingga Afrika tidak dimasukkan ke dalam sebuah peradaban. Karena menurutnya, agama adalah karakteristik utama yang mencirikan sebuah peradaban, sementara Afrika itu menurut Huntington agamanya kurang jelas. Lucu juga ya.
Sedangkan yang dimaksud dengan peradaban Islam adalah peradaban yang bermula dari semenanjung Arabia abad ke VII kemudian menyebar ke Afrika Utara, semenanjung Iberia (Spanyol – Portugal), kemudian memasuki Asia Tengah dan Asia Tenggara. Termasuk di dalamnya kebudayaan-kebudayaan Arab, Turki, Persia dan Melayu. Begitu membahas peradaban Islam terlihat nada kecemasan pada analisanya. Katanya, di republik-republik Islam terjadi kebangkitan. Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh kaum fundamentalis sejatinya merupakan sebuah gambaran dari situasi chaos karena kehilangan makna serta identitas, tiadanya rasa aman di tengah-tengah masyarakat sebagai dampak arus modernisasi yang berjalan begitu cepat dalam berbagai aspek kehidupan sosial, budaya, politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan serta berkembangnya sekularisme. Berbagai kelompok keagamaan merasa bahwa Pemerintah tidak lagi memperhatikan kepentingan sosial, mereka kurang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat dengan tidak memberikan bantuan sosial di saat masyarakat mengalami kesulitan ekonomi. Agama adalah penggerak kemajuan dan ajaran Islam yang suci akan memainkan peran dalam kehidupan kontemporer. Dalam konteks itu, gerakan-gerakan fundamentalisme Islam memiliki posisi kuat di kalangan masyarakat Islam yang lebih maju dan sekuler seperti di Aljazair, Iran, Mesir, Lebanon dan Tunisia. Gerakan-gerakan ini mampu memanfaatkan sarana-sarana komunikasi dan organisasi modern dalam menyebarkan paham mereka. Akhir-akhir ini, kaum migran yang pindah ke kota-kota umumnya memerlukan dukungan dan bimbingan baik yang bersifat emosional, sosial, maupun material. Kelompok-kelompok keagamaan tampaknya lebih mampu melakukan hal itu daripada kelompok-kelompok lain. Agama bagi mereka, bukanlah candu masyarakat tetapi obat kuat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!