SKETSA | Bencong
Ada kecurigaan saya bahwa hilangnya waria dari pandangan mata di jalan-jalan karena adanya puritanisme dalam beragama, hal itu mulai terjadi sejak zaman Reformasi, di mana kaum Wahabi Indonesia demikian keras terhadap transgender. Sepertinya transgender itu bukankah makhluk Tuhan. Hanya dua jenis manusia yang diakuinya, yaitu laki-laki dan perempuan, sementara urusan 112 gender itu seperti tidak ada. Yang di luar pria dan wanita adalah liyan, yang lain, yang berbeda dengan kita, the Other, tidak dianggap dan kalau perlu dimusnahkan. Itu mirip dengan orang Yahudi di Jerman ketika Hitler berkuasa, orang Yahudi dianggap bukan kaumnya, tidak diakui sebagai warga negara Jerman, dikucilkan, disingkirkan, dan pada akhirnya dimasukkan ke kamar gas di kamp Auschwitz.
Padahal Presiden kita yang ke empat, Gus Dur, sangat memperhatikan dan peduli dengan masalah the Other ini. Sehingga ia kemudian menertibkan dan meluruskan nasib kewarganegaraan orang-orang Tionghoa serta para eks Tapol PKI dan keluarganya yang selama ini teraniaya rezim Orde Baru. Demikian pula dengan urusan waria ini, ia demikian toleran, sehingga ada pesantren yang menerima para waria menjadi santrinya. Memang masalah transgender jauh dari selesai. Sampai saat ini kaum LGBT hidup dengan sembunyi-sembunyi, tidak mau membuka identitasnya. Saya pernah diajak menonton festival film Queer di suatu tempat di Jakarta, sudah pasti undangannya sangat privat. Mereka nampak senang dengan film nobar di antara kaum sejenis.
Berdasarkan pemikiran itu saya membuat sebuah lukisan yang diberi judul “The Other”. Lukisan itu didasarkan pada ingatan-ingatan saya ketika berkomunikasi dengan para bencong. Situasinya tampak absurd, dengan waria telanjang di siang hari, berdiri dipagari rerumputan atau semak yang tidak tinggi. Ia nampak provokatif di depan tembok yang penuh dengan grafiti, corat-coret ala street art, di mana ada gambar Gus Dur yang dicat pilox pada tembok, disertai ucapannya yang terkenal, “Gitu Aja Kok Repot”. Terasa ada juxtaposisi di situ, antara bencong dengan Gus Dur. Namun mengingat bangsa kita begitu bermoral, maka dilakukan self-censored terhadap karya saya itu, agar bisa ditayangkan pada media ini. Selamat menikmati.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!