SKETSA | Bencong
Ayah ternyata benar, saya diterima di perguruan tinggi negeri. Itu pun sampai dua kali: UI dan ITB. Ia kurang senang kalau saya masuk ITB karena saya menjadi di luar radar kontrolnya. Jadi ia memberi saya uang saku yang pas-pasan selama di Bandung. Pada awalnya, saya pun tidak diberi motor untuk mondar-mandir belajar ke rumah teman, cari makan, dan ke kampus. Hidup menjadi susah atau dibuat susah oleh ayah saya. Saya masih ingat ketika masih tingkat satu atau TPB, saya mengambil olahraga Taekwondo sebagai kegiatan ekstra kulikuler. Masalahnya latihan Taekwondo itu berlangsung di malam hari, dan sering berakhir jam 11, sehingga oplet dago sudah tidak beroperasi lagi. Akibatnya saya jalan kaki untuk pulang. Dan melewati Jalan Tamblong yang waktu itu banyak pelacur dan bencong di pinggir jalan. Bedanya saya menghadapi waria di Latuharhary dengan di Bandung adalah saya lebih relaks, tidak menghindar seperti dulu. Ketika waria “minta api” dari rokok saya, maka saya akan berhenti, senderan di tembok, dan mengobrol dengan mereka. Tidak takut diganggu. Hitung-hitung saya mengambil istirahat di tengah perjalanan dari Jalan Ganesha. Kadang-kadang saya juga iseng bertanya, “ada tititnya ga?” Dan waria itu dengan kalem membuka celananya.
Sekarang, Bandung dan Jakarta sudah demikian tertib, kita tidak melihat lagi ada gubug di pinggir rel Latuharhary, tidak ada rumah kumuh di pinggir kali Ciliwung, tidak ada bencong di Taman Lawang, tidak ada penjaja seks di Jalan Tamblong. Semuanya rapi, bersih, tertib. Tetapi tetap saja ada pertanyaan di hati saya, kemana para waria itu? Ditertibkan bukan berarti hilang, hanya berpindah tempat saja, cuma kemana? Kita tahu bahwa menurut situs The Burning Platform, dalam artikelnya “All 112 genders, PLUS the 71 suffixes”, bahwa gender manusia itu tidak terbatas pada pria dan wanita saja, saat ini sudah teridentifikasi 112 macam gender. Dan waria masuk ke salah satu dari yang 112 itu. Artinya waria itu tidak bisa hilang dan tidak akan musnah dari muka bumi, karena itu sudah nature-nya manusia. Belakangan saya tahu bahwa sejak 4 tahun terakhir ada aplikasi Michat di mana banyak penggunanya adalah kaum waria. Jadi mereka berpindah dari off-line di pinggir jalan menjadi online melalui smartphone.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!