SKETSA | Bencong
Bagian distrik Menteng yang paling ujung adalah Jl. Latuharhary, di mana paralel dengan jalan itu adalah rel kereta api menuju stasiun Manggarai. Waktu itu di sekitar pinggir jalan kereta api masih belum ditata, sehingga banyak terdapat gubug-gubug tempat tinggal orang yang tidak punya rumah, jadi sekitar Latuharhary itu agak kumuh. Belum lagi paralel dengan jalan kereta api adalah sungai Ciliwung, di mana di pinggir kali juga banyak rumah liar. Gubug di pinggir jalan kereta dan rumah pinggir kali, sebenarnya saling berhubungan, menjadi suatu komunitas. Masalahnya area itu menjadi kacau karena menjadi tempat orang duduk dan tiduran di emperan antara jalan kereta api dan sungai. Mereka ada juga yang terlihat sedang minum miras, ditambah ada pelacur jalanan. Belum lagi beberapa langkah di ujung jalan Latuharhary adalah Pasar Rumput, di mana pusat barang bekas terletak di situ. Kita tahu bahwa barang bekas itu banyak yang berasal dari hasil curian. Di zaman itu, kalau kita kecurian, maka besoknya barang kita yang hilang akan ditemukan di Pasar Rumput. Di ujung yang lain dari Latuharhary adalah Taman Lawang. Itu juga daerah cuci mata untuk malam hari, karena banyak bencong atau waria berkeliaran menawarkan “dagangan”. Pinggiran Latuharhary – jalan kereta api – sungai Ciliwung – Pasar Rumput – Taman Lawang dahulu menjadi area yang rawan.
Walaupun sudah mengetahui kondisi itu, saya tetap saja berjalan di pinggir Latuharhary. Dan benar saja di siang itu saya dicegat seorang yang menawarkan jasa seks. Namun yang menawarkan adalah waria, padahal waria biasanya beroperasi di malam hari. Saya bilang tidak tertarik kepada waria itu. Tetapi dia bilang, “kalau ga punya uang bisa gratis kok”. Saya menggeleng, tetap saja waria itu membuka baju atasnya dan memperlihatkan payudaranya yang toples. Suatu peristiwa yang absurd di siang hari, seorang waria membuka dadanya. Ketika saya berlalu, ia berteriak dari balik pohon pangkas yang tidak tinggi itu. Saya ngeloyor tidak mengacuhkannya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!