SKETSA | Bencong

ED
Sabtu, 22 Oktober 2022 | 06:30 WIB
Bagikan
SKETSA | Bencong

Oleh Syakieb Sungkar

AYAH saya itu tidak begitu peduli dengan anaknya. Menurutnya anak-anak sudah pandai dan akan bisa hidup mandiri. Ia akan mengeluarkan sedikit effort agar anaknya maju. Karena semua anak akan seperti dirinya, berjalan dengan takdirnya, ada nasibnya sendiri-sendiri. Ketika saya lulus SMA, di zaman itu perguruan tinggi swasta yang terbaik adalah Universitas Trisakti. Kalau di zaman sekarang, Trisakti itu setaraf dengan Universitas Pelita Harapan atau Binus. Tetapi sekarang Trisakti sudah hancur, sulit mendapatkan mutu pendidikan yang baik dari universitas itu.

Seperti di zaman sekarang, hasil test universtas swasta biasanya akan lebih cepat dari pengumuman test masuk perguruan tinggi negeri. Akibatnya posisi calon mahasiswa menjadi dilematis. Kalau tidak diambil dan tidak diterima di perguruan tinggi negeri, maka kesempatan menjadi hilang. Tetapi kalau diambil lalu diterima di perguruan tinggi negeri, maka kita akan membayar uang pangkal ganda. Jadinya serba salah. Kalau Trisakti itu nilai kelulusan test masuk dibagi atas 3 kategori: I, II dan III. Kategori I artinya hasil test masuk kelompok tertinggi, sehingga bayar uang pangkalnya paling murah. Sementara kategori II adalah yang hasil testnya sedang, sehingga bayar uang pangkalnya dua kali lipat dari kategori I. Yang terakhir adalah kategori III, bayarnya tiga kali lipat dari kategori I. Alangkah sadisnya.

Akhirnya saya masuk kategori I dan nilai testnya paling tinggi atau ranking pertama, jadinya saya paling pinter di antara semua orang yang ikut test. Dengan gembira saya mengabarkan berita baik itu beserta uang pangkal yang harus dibayar. Tetapi ayah saya menjawab dengan datar, “tunggu saja hasil pengumuman sekolah negeri”. Saya bilang, nanti bagaimana kalau tidak diterima – ia menjawab, “ya sudah, tidak usah sekolah.” Selama menunggu dua bulan, pikiran saya rungsing, tidak enak makan, dan tidak bergembira kalau sedang berkumpul dengan teman-teman. Biasanya kalau sedang suntuk saya pergi ke toko buku atau nonton bioskop, tetapi itu tidak menolong, pikiran saya tetap melamun khawatir tidak bisa kuliah. Saya banyak jalan-jalan di sekitar Menteng, untuk sekedar refreshing, karena dekat rumah, pohonnya rindang, dan rumah-rumahnya peninggalan Belanda bergaya art deco, sehingga enak dipandang mata.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.