SKETSA | Adorno
Jenis seni yang lain juga mengikuti formula yang sama. Misalnya pada penyiaran opera sabun yang dramatis. Demikian halnya dengan musik. Musik jazz adalah sebuah tiruan murahan . Simfoni Beethoven secara kasar diadaptasi untuk soundtrack film. Dengan cara yang sama, novel Tolstoy diputarbalik dalam sebuah skrip film. Mereka kemudian menggunakan alasan demi memuaskan keinginan spontan dari publik. Fenomena seperti ini, inheren dengan peralatan teknis dan para personelnya. Mereka merupakan bagian dari mekanisme ekonomi. Mereka melakukannya atas persetujuan dari otoritas eksekutif. Agar tidak menghasilkan sesuatu yang berbeda dengan aturan-aturan mereka dan tidak berlawanan dengan idea-idea mereka mengenai konsumen.
Penutup
Kita harus mengapresiasi tujuan Adorno dalam memberikan teori estetikanya, bahwa seni itu seharusnya berjarak dengan masyarakat, mengkritisi dan merupakan antitesis dari masyarakat. Karya seni itu bukanlah alat untuk dipertukarkan, apalagi diperdagangkan untuk mencari keuntungan. Karena kalau demikian yang terjadi, maka kita sedang melakukan reifikasi (pembendaan) terhadap seni. Seni itu harus dialami, dinikmati, dihayati ketimbang dianalisis melalui konsep-konsep yang sistematis. Karena perbuatan seperti itu berarti sedang memberikan identitas kepada karya seni. Dan pemberian identitas merupakan langkah awal dari pembuatan kategorisasi dalam rasionalitas ilmiah sehingga memberi jalan manusia akan menundukkan dan mengatur seni. Itulah jalan kapitalisme, di mana manusia nantinya akan dininabobokan oleh kesadaran palsu. Dan seni kemudian dijadikan alat atau instrumen untuk tujuan tersebut. Dengan cara penguasa, institusi, industri dan administrasi yang berwenang membuat realitas sepertinya baik-baik saja, padahal realitas yang sebenarnya itu penuh tragedi, ketidakstabilan dan penderitaan, seperti holocaust yang terjadi di Auschwitz.
Namun terjadi paradoks ketika estetika harus membebaskan diri dari komodifikasi. Karena menurut Adorno, pasar telah merebut subyek dari dunia sehingga menetralkan daya kritis manusia. Pertanyaan besarnya adalah, apakah komodifikasi dan sikap kritis dapat berjalan seiring. Dengan banyaknya forum-forum kritik seni dan budaya, suatu produk budaya yang dihasilkan secara massal dapat dilakukan kritik secara seksama. Belum lagi media massa dan juga media online serta media sosial telah melakukan kritik secara aktif dengan waktu respon yang sangat cepat. Karya seni yang baik dan buruk akan mendapat tanggapan secara luas, apakah itu berbentuk pujian atau cemooh. Namun hal itu tidak dapat mempengaruhi pasar sepenuhnya untuk hadir atau membeli. Masyarakat mempunyai kesadarannya masing-masing untuk datang menonton atau mengunjungi suatu produk budaya. Ketika saya sampai pada paradoks ini, nampaknya usaha jual-beli karya seni yang saya lakukan selama ini masih dapat dilanjutkan, karena komodifikasi dan estetika bisa juga dilakukan seiring. Dan saya tidak terlalu khawatir akan diomelin oleh Adorno, mengingat dia sudah keburu meninggal pada tahun 1969.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!