SKETSA | Adorno
Karya seni di satu sisi menjadi dibendakan (reifikasi), dikuatkan posisinya menjadi benda budaya. Sementara di sisi lain, karya seni menjadi alat bersenang-senang yang disimpan di rumah kolektor, dan sebagian besar dari kolektor itu sebenarnya tidak tertarik dengan karya seni.
Era modern menandai puncak dari pemikiran rasional pencerahan yang diusung Immanuel Kant, dimana dunia empiris menyerah kepada subyek transendental Kantian, yaitu obyek menjadi subyek, manusia menguasai alam. Akibatnya, pemikiran membuat dirinya menjadi sekedar tautologi , rumus-rumus matematika. Rumus-rumus itu oleh Kapitalisme diwujudkan menjadi cara berfikir sosio-ekonomis dari instrumen akal, yaitu segala hal kemudian dibendakan (reifikasi) dan diidentifikasi berapa nilainya (Rupiahnya), sebagai pemikiran identitas. Pasar, melalui model berpikir ekonomi-rasional, telah merebut manusia dari dunia, sehingga menghilangkan daya kritis manusia dalam melihat dunia. Manusia, tanpa disadari telah menjadi obyek dari dunia yang didominasi oleh pemikiran satu-dimensi , yaitu pemikiran uang melulu, pemikiran komersial. Hal ini membuat meningkatnya ketidakmampuan manusia melaksanakan tugas seni sesuai yang diidamkan Adorno, bahwa manusia sebenarnya mempunyai kebutuhan estetik. Harapan Adorno agar manusia dapat menikmati karya seni sehingga dapat melihat adanya dunia lain di luar realitas yang ada, tidak tercapai. Sebaliknya, kemana pun manusia pergi, mereka akan menghadapi dirinya sendiri, bukan dunia yang di luar dirinya.
Dalam Dialectic of Enlightenment, Adorno dan Max Horkheimer mengatakan, “Manusia berilmu mengetahui bahwa mereka dapat menciptakan (memproduksi) benda-benda. Sehingga benda yang semula ‘berada dalam dirinya sendiri’ menjadi ‘untuk dirinya (menjadi milik dia)’. Dalam transformasi ini, benda-benda substansinya berubah menjadi suatu dominasi (penguasaan manusia atas benda tersebut)” . Penguasaan masyarakat secara keseluruhan oleh Kapitalisme telah menjajah semua aspek kehidupan. Melalui ilmu pengetahuan, manusia diubah menjadi mesin kerja. Manusia berubah bentuk hanya menjadi alat atau mesin semata. Adorno mengamati gejala ini sebagai target utama yang harus direspon melalui berpikir dialektika, yang mana fondasinya diletakkan pada cara berpikir dialektika negatif:
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!