Sarasehan Lintas Iman, DMFI & AFJ Soroti Mandeknya Komitmen DIY Akhiri Konsumsi Daging Anjing

ED
Sabtu, 12 April 2025 | 05:14 WIB
Bagikan
Sarasehan Lintas Iman, DMFI & AFJ Soroti Mandeknya Komitmen DIY Akhiri Konsumsi Daging Anjing

VISI.NEWS | YOGYAKARTA – Sebagai provinsi dengan tingkat konsumsi daging anjing tertinggi ketiga di Pulau Jawa, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan wilayah yang bebas dari praktik perdagangan dan konsumsi daging anjing. Berangkat dari keprihatinan ini, Animal Friends Jogja (AFJ) bersama Koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI) menyelenggarakan sarasehan lintas iman bertajuk “Cinta Kasih Lintas Iman: Guyub Wujudkan Jogja Tanpa Daging Anjing” sebagai bagian dari acara AFJ Bark in the Park II.

Acara ini menjadi ruang reflektif dan kolaboratif yang mempertemukan tokoh lintas agama, akademisi, pengelola shelter, serta komunitas pecinta hewan untuk menggali nilai-nilai kasih dalam agama, menyuarakan urgensi kesehatan publik, serta membangun kesadaran bersama untuk mengakhiri kekejaman terhadap anjing di Yogyakarta.

Sarasehan dibuka dengan kesaksian menyentuh dari Victor Indrabuana, pendiri Shelter Ron-Ron Dog Care (RRDC), yang merawat anjing-anjing korban perdagangan ilegal. Ia menceritakan kisah penyelamatan 78 anjing di Kulon Progo pada 2021, yang semula hanya dianggap sebagai barang bukti oleh aparat penegak hukum. “Kalau kita tidak ambil tindakan, mungkin anjing-anjing itu sudah mati sebelum sidang digelar,” ungkapnya. Berkat kerja sama antara komunitas dan aparat, kasus tersebut berhasil dibawa ke ranah hukum. Namun Victor menekankan bahwa kasus serupa masih terus terjadi karena belum ada regulasi yang tegas. “Buktinya, kalau kita mau, kita bisa. Masalahnya selama ini bukan tidak bisa, tapi tidak mau,” tuturnya, menyoroti perlunya kepedulian dan kolaborasi dalam menyelamatkan hidup makhluk hidup yang kerap diperlakukan sebagai komoditas.

Dalam sesi berikutnya, Erwan Budi Hartadi dari Center for Tropical Medicine UGM memaparkan sisi ilmiah dan kesehatan publik dari konsumsi daging anjing. Ia menjelaskan bahwa Yogyakarta merupakan wilayah ketiga tertinggi dalam konsumsi daging anjing di Pulau Jawa, dengan lebih dari 6.000 anjing disembelih tiap bulannya. “Daging anjing berasal dari perdagangan ilegal tanpa pemeriksaan kesehatan—ini adalah potensi bom waktu,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa penyembelihan anjing bukan hanya kejam, tetapi juga membuka peluang penyebaran zoonosis seperti rabies dan leptospirosis. Dengan pendekatan One Health, Erwan menekankan bahwa perlindungan terhadap hewan juga berarti melindungi manusia dan lingkungan dari ancaman penyakit menular.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.