Rupiah Melemah Dipicu Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Nilai tukar rupiah./visi.news/ist.
VISI.NEWS - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (22/7/2026). Pelemahan mata uang Garuda dipengaruhi meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada 2026.
Pada penutupan perdagangan, rupiah melemah 29 poin atau 0,16 persen ke level Rp17.888 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed meningkat seiring tingginya harga minyak dunia akibat gangguan pasokan yang memicu kekhawatiran inflasi.
"Ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan meningkatkan laju kenaikan suku bunga pada tahun 2026 meningkat tajam, didorong oleh harga minyak yang tinggi karena gangguan pasokan di Teluk memicu kekhawatiran inflasi dan memicu spekulasi tentang suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama," ujarnya.
Berdasarkan data Prime Terminal, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan mencapai 78 persen. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada September diperkirakan berada di kisaran 68 persen.
Sentimen tersebut dipengaruhi berlanjutnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran yang telah memasuki hari ke-11. Di sisi lain, investor juga mencermati ancaman blokade angkatan laut di Laut Merah oleh kelompok Houthi Yaman terhadap Arab Saudi.
Kondisi tersebut mendorong sejumlah kapal tanker minyak mengubah jalur pelayaran, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan minyak global serta meningkatnya biaya pengiriman dan asuransi.
"Ancaman blokade ini muncul ketika lalu lintas maritim telah terganggu oleh permusuhan di sekitar Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak global, yang menambah kekhawatiran bahwa gangguan yang berkepanjangan dapat semakin mengurangi pasokan yang tersedia dan meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi," kata Ibrahim.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75 persen. BI juga menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen.
Menurut Ibrahim, selain mempertahankan suku bunga acuan, Bank Indonesia juga memperluas kebijakan insentif untuk mendorong masuknya arus modal asing ke pasar keuangan domestik serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"BI memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas serta meningkatkan likuiditas," ungkapnya.
Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu tercatat tetap berada di level Rp17.909 per dolar AS, tidak berubah dibandingkan hari sebelumnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!