Road to W20: Kolaborasi Tobatenun dan BRI Prioritas Memperkuat Pemberdayaan Ekonomi Lokal Melalui Perempuan Perajin Tenun Batak
Turut hadir sebagai narasumber lainnya dalam sesi talkshow, Lisda Budhi Novianto, Wakil Ketua, Ikatan Wanita BRI (IWABRI), dan Janlie, Wakil Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan, Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial, Kamar Dagang Indonesia (KADIN), Medan. Selain sesi talkshow, pameran pop-up Tobatenun juga hadir di area dining dan terbuka untuk umum, dapat dikunjungi di tanggal 13 Juli 2020, pukul 12.00 WIB hingga selesainya acara. Sebagian hasil penjualan dari pameran akan diperuntukkan bagi rumah komunitas tenun, Jabu Bonang. Sedangkan dari sesi pagelaran busana, hasil penjualan koleksi tenun yang ditampilkan akan didonasikan sepenuhnya bagi pengembangan komunitas tenun, melalui Jabu Bonang.
Rumah komunitas tenun, Jabu Bonang, didirikan oleh Tobatenun sebagai bentuk solusi dan upaya berkelanjutan dalam pengembangan kompetensi dan kapasitas para penenun, bukan hanya sebagai penenun terampil yang berwawasan, namun juga mendorong ruang kewirausahaan agar para penenun mampu mandiri sebagai pelaku ekonomi tenun itu sendiri. Banyak kegiatan pengembangan yang dilakukan di Jabu Bonang, para penenun berkesempatan memiliki akses akan 321 koleksi warna benang yang berasal dari material alam sekaligus meningkatkan teknik dan kreativitas menenun. Teknik dan motif ─ dari tenun Batak yang hampir punah ─ belum tentu dikuasai penenun muda, namun menjadi salah satu materi pelatihan yang diberikan di Jabu Bonang. Pelatihan tersebut diharapkan dapat mengembalikan kembali penciptaan ulos-ulos kuno yang kini sudah sangat minim keberadaannya, sehingga dapat dikenal oleh generasi penenun sekarang dan mendatang.
"Besar harapan kami, masyarakat akan banyak berkembang melalui sejumlah pemberdayaan perempuan dan sosial yang kami lakukan. Program pemberdayaan tersebut kami rancang dengan konsep ekosistem berkelanjutan. Yang niscaya menaikkan nilai kain tenun itu sendiri dengan material alam yang tidak merusak lingkungan, memberikan kenyaman perdagangan bagi semua pihak khususnya para penenun perempuan, dengan tujuan kesejahteraan bagi masyarakat komunitas penenun di Sumatera Utara," tutup Melvi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!