REFLEKSI | Takdir dan Spirit Kita
Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.
SEORANG teman menanyakan masalah takdir pada temannya, dalam anggapannya, takdir itu selalu pada akhirnya ambigu tidak jelas, seperti tidak memiliki ruh yang konsisten, untuk menjawab persoalan takdir ini.
Bila manusia jadi miskin, tak mampu memiliki nasib yang baik, dan kondisinya terpuruk, hanya cukup bisa makan saja satu hari sekali, maka manusia lainnya akan mengatakan,"Itulah takdirmu, kamu tidak akan bisa melebihi itu, karena Allah sudah mengariskan hidupmu dalam catatanNya, kamu selalu dalam kesusahan!" Sadis ! Allah ko tega memberi hukuman seberat itu ! Apa iya?
Kemudian bila ada manusia yang diberi keberlimpahan, kaya raya, banyak harta, rumah dimana mana, kendaraan berjejer hampir tidak di gunakan yang lainnya, karena pada prinsipnya hanya satu saja yang menjadi favoritnya, yang akan selalu ia pakai, kemudian manusia yang lainnya menyebutnya, "Itulah takdirnya, Allah telah mencukupkannya jadi kaya, dan Allah memberinya keberlimpahan!"
Teman yang lainnya menimpali, "Jika ada manusia yang sudah frustasi pada dunia, kemudian ia bunuh diri loncat dari gedung tinggi, tapi ia tidak mati, maka ada kesempatan kedua ia untuk bisa hidup ! itu adalah takdirnya !" "Lalu takdir itu seperti apa?" "Jika Nasib baik, itu karena takdirnya bernasib baik!" "Jika Nasib buruk, itu karena Allah menakdirkannya buruk !" Bingung kita menjawab hal ini !
Menurutmu bagaimana kita menyikapi takdir ini?
Menyikapi takdir adalah mempercayainya bahwa, ada takdir yang memang Allah sudah haruskan, sudah ditetapkan garisnya, dan itu kita tak bisa merekayasanya. Dan Jenis takdir seperti ini di sebut Takdir Mubram.
Kemudian ada jenis takdir yang bisa kita rubah kondisinya, yang berkaitan dengan capaian keduniawian kaya atau miskin, kepintaran, prestasi, ketenaran, keunggulan diri, kesuksesan, yang semua itu bisa kita ikhtiari untuk diraih hanya dengan kerja keras kita, sehingga kita bisa mencapai keinginan itu. Dan usaha kita merubah takdir baik ini dinamakan takdir Mu'allaq.
Adapun penjelasannya terkait dua jenis takdir ini adalah sebagai berikut ;
1. Takdir Mubram
Yaitu bentuk takdir yang sudah paten, mutlak. Takdir semacam ini, tidak dapat diubah dengan cara dan ikhtiar apa pun. Hal ini karena Allah SWT telah menjadikan takdir Mubram sebagai ketentuan yang pasti, dan setiap manusia tidak diberi kuasa untuk mereka-reka ketentuan terhadap takdir ini. Misalnya, kita terlahir dari orang tua yang mana, etnis apa, agama apa, ketentuan pada takdir itu ada pada otoritas kehendak Allah.
Dan pada kematian pun, itu termasuk dalam takdir Mubram. Allah SWT berfirman, “Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS. Al-A'raf: 34)
2. Takdir Mu'allaq
Takdir mu’allaq, yaitu takdir yang masih bersifat kondisional sehingga, untuk takdir jenis ini, bisa diubah dengan ikhtiar manusia.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran surat An-Najm ayat 39-40 yang artinya ; “dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.”
Dari ayat di atas, ada spirit yang manusia harus bangun, rasa optimismenya, dan kepercayaan diri untuk berikhtiar secara sungguh-sungguh, dengan semangat pantang menyerah, tentunya akan memberikan bukti, capaian hasil akhir dari apa yang kita perbuat itu...dan hasil ikhtiar dengan penuh rasa optimisme itulah yang akan terasa oleh kita, dan Allah akan menunjukan hasil usaha kerja keras kita yang berproses itu, dengan memperlihatkan hasil usaha kita yang terus mengalami kemajuan, tentunya itu pun, dibarengi dengan adanya strategi kita dalam menyikapinya, dan menjalankan ikhtiarnya. Dalam hal ini, ikhtiar dibarengi doa sebagai suatu spirit motivasi tentunya akan kita perlukan.
Qur'an, surat Ar-Ra’d Ayat 11
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنۡۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهٖ يَحۡفَظُوۡنَهٗ مِنۡ اَمۡرِ اللّٰهِؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِهِمۡؕ وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوۡمٍ سُوۡۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمۡ مِّنۡ دُوۡنِهٖ مِنۡ وَّالٍ
Lahuu mu'aqqibaatum mim baini yadaihi wa min khalfihii yahfazuunahuu min amril laah; innal laaha laa yughaiyiru maa biqawmin hattaa yughaiyiruu maa bianfusihim; wa izaaa araadal laahu biqawmin suuu'an falaa maradda lah; wa maa lahum min duunihiiminw waal
Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Al An’am: 59).
Semoga kita selalu bisa membangun spirit kerja keras kita, spirit kerja cerdas kita, sehingga apa yang bisa kita ikhtiari untuk mendapatkan kemajuan, dan kesuksesan hidup, bisa kita raih dengan segera, secepat-cepatnya, berikhtiar dengan doa, berikhtiar dengan ke haqqul yaqinan kita, kepercayaan batin kita yang tinggi, bahwa keberhasilan kita sudah ada di depan mata kita, dan takdir baik bisa kita raih, selagi kita terus berusaha, dan selagi kita terus mengusahakannya, aamiin.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!