REFLEKSI | Puasa untuk Meraih Cinta

ED
Senin, 4 April 2022 | 12:20 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Puasa untuk Meraih Cinta

Oleh Bambang Melga suprayogi, M.Sn.

CINTA kepadaNya adalah perasaan agung yang gaib, penuh gairah keimanan. Tak sembarangan manusia bisa memiliki perasaan begitu sangat mencintai, pada suatu wujud yang tak terlihat, yakni, Allah Subhanahu wa ta'ala, jika pada si hamba, tak ada jejak iman yang menempel, entah itu karena pewarisan iman dari orang tuanya, atau keluarganya.

Cinta sebagai manifestasi suatu jalinan ikatan suci, selalu memerlukan bukti, dari yang mencintainya. akan ada suatu keyakinan yang kuat, sebagai landasan adanya cinta, karena percaya cintanya akan berbalas.

Allah dalam urusan cinta, selalu membuka dirinya untuk yang mencintainya.

Tidak ada pandangan buruk di mata Allah, dalam melihat kita, hanya dari status kita orang hina, pendosa, maupun terlaknat. Di mata Allah, semua manusia adalah berharga ! Akan sangat berbeda dengan pandangan manusia, yang kadang tertipu pandangannya, dari hanya melihat manusia dalam status sosial, dan keyakinan.

Merasa diri paling benar, paling suci, dan paling beriman, bisa jadi itu adalah sebuah ujian. Merasa diri sebagai pendosa, paling hina, dan paling tercela, bisa jadi itu sebuah celah, dari adanya kesadaran yang muncul atas adanya ke imanan.

Kedua posisi yang berbeda seperti diatas, adalah suatu gambaran, bahwa, manusia selalu memiliki persepsinya sendiri-sendiri tentang dirinya, dalam porsi keimanan.

Coba anda pikirkan .... Mana yang paling anda anggap baik. Orang yang merasa Percaya dirikah ! Bahwa ia paling beriman ? Atau orang yang memiliki kesadaran ! Bahwa ia seorang pendosa, yang berani konsukuen atas ke khilafannya !

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.