REFLEKSI | Puasa untuk Meraih Cinta
Menipu Allah adalah pada hakekatnya menipu diri kita sendiri. Apakah lantas itu membuat kita bahagia ? Ataukah kita bangga pada tipu daya kita ? Jika kita masih merasa bisa memperdaya orang, selalu menang bisa mengelabui banyak orang, artinya, kita telah jadi manusia yang sulit mendapat hidayah, walau kita telah beriman.
Perhatikan surat Al-Baqarah ayat ke 18, Shummum bukmun ‘umyun fa hum lā yarji‘ūn. Artinya, “(Mereka) tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak akan kembali.”
Lalu kaitan semua hal di atas itu, dengan puasa kita dibulan penuh berkah ini, di bulan Ramadan, adalah, tumbuhnya kesadaran dari rasa cinta kita pada Dia, Dzat yang maha besar, sehingga puasanya kita, pada akhirnya mampu...
1. Dengan berpuasa, kita sesungguhnya siap memasuki kemurnian kedirian kita 2. Siap menanggalkan hal buruk yang selama ini kita genggam. 3. Meninggalkan tipu daya diri, dan mengenakan jubah diri kita yang sebenarnya, yang tak berkedok dusta, hanya untuk mengelabui orang lain. 4. Menjadi pribadi mulia. 5. Menjadi diri sendiri. 6. Menjadi Muslim sejati. 7. Menjadi pribadi unggul. 8. Menjadi manusia paripurna.
Alhamdulillah, itulah hakekat cinta kita yang terbangun atas hadirnya bulan Ramadan ini. Tak ada kepalsuan, tak ada dusta, tak ada tipu daya, yang ada, adalah semakin besar rasa cinta kita, semakin yakin dan kuatnya ketaqwaan kita, dan semakin murni iman kita pada Dzat yang maha tahu.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!