REFLEKSI | Puasa untuk Meraih Cinta
Ingat Allah tegas dalam hal ini. Dia memperingatkan segolongan manusia yang terlalu pede tersebut, seperti apa yang ada disurat Al-Baqarah ayat 17. Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
Dan Allah juga menunjukan rasa sayangnya pada mereka yang mau kembali, At Taubah ayat 104, Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima tobat hamba-hamba-Nya dan menerima zakat(nya), dan bahwa Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang?
Cinta adalah suatu harapan... Pemberi keyakinan Pembuka pintu magfirah, ampunan. Ada setitik rasa cinta, cukup itu untuk bisa menyelamatkan kita...! Khususnya bagi kebaikan kehidupan kita di akhirat kelak.
Bisa jadi di mata manusia kita dianggap pendosa, tapi di mata Allah kita adalah orang yang terselamatkan. Mungkin juga kita menganggap kita manusia paling beriman, tapi di mata Allah kita termasuk golongan orang-orang yang celaka.
Bagaimana ini bisa terjadi ? Balik ke hati nurani kita !
Seperti apa kita ! Seperti apa diri kita ! Hanya di mata kita sendiri, kitalah yang paling paham. Diri kita itu seperti apa ? Jika masih berkedok kepalsuan, tentunya kita yang paling tahu posisi kita itu masuk dalam golongan yang mana !
Seorang penipu, dan berkedok kepalsuan, tak akan menembus pintu kesejatian dan masuk kegolongan orang yang terselamatkan. Perhatikan surat Al-Baqarah Ayat 12. Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.
Meraih cinta Allah adalah dengan menunjukan ketulusan kita, tak ada yang kita sembunyikan tentang diri kita, baik di mata manusia, dan utamanya dimata Allah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!