REFLEKSI | Pelintir Informasi
1. Mencari isu yang bisa diangkat.
2. Mendistorsi setiap informasi yang baik, menjadi berita buruk, yang dianggap cacad program, sehingga menjadi berita negatif yang harus di kecam.
3. Munculnya para tokoh pengecam, baik tokoh politik, tokoh partai, tokoh nasional, yang hadir bersamaan untuk ikut meramaikan, dan menguatkan informasi yang sudah terdistorsi itu, sehingga terjadi rentetan letupan bara api yang terus dihembuskan, seakan terjadi kesalahan, dan kelengahan cacad program...lalu stigma negatif, diketuk palu, untuk dihujat bersama-sama.
4. Memainkan disinformasi lewat media sosial, yang dilakukan para relawan, simpatisan, dan mereka yang ikut-ikutan menabuh genderang kegaduhan, sehingga kegaduhan masuk ke ruang privat setiap individu, dan pengorengan isu semakin masif, semakin besar, dan menjadi bom waktu yang siap diledakan.
5. Media massa ternyata tak jadi peredam ! narasumber didatangkan, talk show, wawancara dilakukan secara live, namun tetap, distorsi malah semakin menemukan jalannya, kerancuan, ketidak proporsian telah menjadi sebuah kebenaran.
6. Isu terus digoreng, satu sampai seminggu lebih, berita bohong penuh narasi kebencian disebar dengan banyak bumbu distorsi, ditambah ilustrasi baik dengan meme, atau hujatan-hujatan, sindiran yang arahnya mulai melebar, kepenyelengara negara, penguasa yang sedang berkuasa
7. Kebencian terus dipupuk di negeri dongeng itu, lewat ceramah langsung para agamawannya, di mimbar mimbar tempat ibadah, dan di tempat-tempat pengajian, semua dibuat emosi, provokasi massa masif tak hanya di dunia Maya, didunia nyatapun, jelas sangat kuat dimainkan.
8. WA group pun sama, dalam kumpulan ikatan orang-orang yang kita kenali, sudah disusupi dengan terang-terangan, para sahabat telah terpancing ikut-ikutan jadi pembenci, berani menebar isu kebencian, agar yang lain sama bisa di provokasi untuk tumbuh kebencian yang serupa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!