REFLEKSI | Menjemput Rupiah di Balik Gerimis
Hujan rintik ini adalah ujian ketangguhan. Orang gagal melihat hujan sebagai alasan untuk berhenti.
Orang sukses melihat hujan sebagai alasan untuk berteduh sebentar, pasang payung, lalu jalan terus.
Rezeki itu seringkali dibungkus dengan "kertas kado" yang jelek: cuaca buruk, macet, penolakan, capek.
Kalau kita jijik sama bungkusnya (hujannya), kita nggak akan pernah dapat isinya (rezekinya).
2. Teori Kehidupan: Dikit-dikit tapi Basah. Hujan rintik ini mengajarkan filosofi Konsistensi.
Dia tidak perlu jadi badai yang menghancurkan untuk membasahi bumi. Dia cukup turun kecil-kecil, rintik-rintik, tapi terus-menerus. Hasilnya? Tanah menyerap air lebih dalam. Akar pohon minum lebih puas.
Beda dengan "Hujan Badai" (Rezeki kaget/Kaya mendadak/Viral). Datangnya byurr, bikin banjir, merusak, lalu hilang tanpa bekas. Tanah malah longsor. Hidup kita juga begitu. Kita sering meremehkan langkah kecil (rintik).
"Ah, nabung ceban doang." "Ah, baca buku selembar doang." "Ah, jualan laku satu doang."
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!