REFLEKSI | Menjemput Rupiah di Balik Gerimis

ED
Rabu, 24 Desember 2025 | 07:24 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Menjemput Rupiah di Balik Gerimis

Oleh Didi Subandi

​PAGI di Cimenyan. Langit tidak biru, tapi abu-abu syahdu. Suara tik... tik... tik... di atap seng terdengar ritmis. Hujan rintik-rintik turun tanpa ampun, membasahi tanah yang kemarin kering kerontang. ​Di depan saya, kopi hitam mengepulkan asap yang bertarung melawan udara dingin.

​Di sinilah perlahan otokritik kita pagi ini menampar dengan lembut tapi telak.

​Banyak orang saat melihat hujan rintik begini langsung menarik selimut lagi. "Yah, hujan... males ngantor." "Yah, becek... batalin janji ah." "Yah, mendung... rezeki seret nih."

​Kita sering menganggap hujan adalah penghalang. Padahal dalam teologi langit, hujan adalah simbol turunnya Rahmat (Rezeki).

​Lihatlah betapa kacaunya logika kita: ​1. Teori Rezeki: Meminta Air, Menolak Basah. Setiap hari kita berdoa: "Ya Tuhan, turunkanlah rezeki yang melimpah bagai hujan deras."

Tapi begitu Tuhan menurunkan hujan beneran (air), kita malah mengeluh, memaki, dan menutup pintu rapat-rapat.

​Kita ini maunya "Rezeki Kering". Kita mau uangnya, tapi nggak mau keringatnya. Kita mau suksesnya, tapi nggak mau "becek" perjuangannya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.