REFLEKSI | Menjemput Rupiah di Balik Gerimis
Oleh Didi Subandi
PAGI di Cimenyan. Langit tidak biru, tapi abu-abu syahdu. Suara tik... tik... tik... di atap seng terdengar ritmis. Hujan rintik-rintik turun tanpa ampun, membasahi tanah yang kemarin kering kerontang. Di depan saya, kopi hitam mengepulkan asap yang bertarung melawan udara dingin.
Di sinilah perlahan otokritik kita pagi ini menampar dengan lembut tapi telak.
Banyak orang saat melihat hujan rintik begini langsung menarik selimut lagi. "Yah, hujan... males ngantor." "Yah, becek... batalin janji ah." "Yah, mendung... rezeki seret nih."
Kita sering menganggap hujan adalah penghalang. Padahal dalam teologi langit, hujan adalah simbol turunnya Rahmat (Rezeki).
Lihatlah betapa kacaunya logika kita: 1. Teori Rezeki: Meminta Air, Menolak Basah. Setiap hari kita berdoa: "Ya Tuhan, turunkanlah rezeki yang melimpah bagai hujan deras."
Tapi begitu Tuhan menurunkan hujan beneran (air), kita malah mengeluh, memaki, dan menutup pintu rapat-rapat.
Kita ini maunya "Rezeki Kering". Kita mau uangnya, tapi nggak mau keringatnya. Kita mau suksesnya, tapi nggak mau "becek" perjuangannya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!