REFLEKSI | Ludah, Waktu, dan Runtuhnya Menara Gading

ED
Jumat, 2 Januari 2026 | 10:10 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Ludah, Waktu, dan Runtuhnya Menara Gading

Oleh Didi Subandi

​SECANGKIR kopi baru saja mendarat di meja. Hitam. Diam. Uapnya meliuk pelan ke udara, seperti sebuah doa yang ragu-ragu, atau mungkin sisa amarah yang perlahan mendingin.

Saya menyesapnya sedikit: pahit, pekat, dan jujur. Tak ada gula yang menyamarkan rasa. Di dasar cangkir itu, nanti, akan tertinggal ampas—sesuatu yang keruh, mengendap, dan tak mungkin lagi larut kembali menjadi air bening. Barangkali nasib manusia memang seperti kopi ini; kita menikmatinya teguk demi teguk, hingga tiba-tiba kita tersedak oleh ampas yang kita buat sendiri.

​Di antara jeda satu tegukan dengan tegukan lain itulah, ingatan saya terseret pada peristiwa di sebuah swalayan yang dingin. Di sana, sejarah seseorang tidak runtuh oleh ledakan meriam, melainkan oleh secuil ludah.

​Sore itu, Desember 2025, langit Makassar mungkin sedang abu-abu. Amal Said berdiri di antrean.

Tubuhnya dibalut pakaian yang menyiratkan kelas sosial tertentu: seorang priyayi baru, dosen, pengajar ribuan kepala. Tiga puluh tiga tahun ia menyusun bata demi bata reputasi, membangun menara gading intelektualitas di Universitas Islam Makassar. Waktu yang begitu panjang untuk membangun nama, namun ternyata terlalu ringkih untuk menahan beban satu detik emosi.

​Di hadapannya berdiri Ningsih, gadis 21 tahun, seorang buruh kasir. Kakinya mungkin bengkak setelah berjam-jam berdiri, tangannya bergerak mekanis memindai kode batang demi upah yang tak seberapa. Dalam teater kehidupan ini, Ningsih adalah simbol rakyat semesta yang bekerja dalam diam, sementara Amal adalah simbol otoritas yang merasa dunia harus minggir saat ia melangkah.

​Maka ketika Amal melihat celah kosong dan bergerak ke sana, ia merasa itu hak alaminya. Bukan menyerobot, dalihnya, hanya efisiensi. Namun Ningsih menegur. Suaranya lembut, "Maaf Pak, mohon antre..." ​Suara itu, bagi telinga yang terbiasa mendengar persetujuan mahasiswa, terdengar seperti pemberontakan. Di sinilah letak keretakan itu. Tubuh kadang menyimpan memori purba yang lebih cepat bereaksi daripada nalar.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.