REFLEKSI | Ludah, Waktu, dan Runtuhnya Menara Gading
Kisah ini adalah komedi gelap tentang manusia modern. Kita sibuk mengejar gelar, menumpuk hormat, dan memoles citra saleh, namun lupa merawat rem di dalam dada. Kita menuntut orang lain menghormati Siri' kita, sambil di saat yang sama kita injak martabat orang lain. Sungguh sebuah ironi yang sempurna: seorang pengajar etika jatuh justru karena ia lupa menjadi murid yang baik bagi nuraninya sendiri. Kopi di cangkir saya kini benar-benar dingin, meninggalkan ampas hitam di dasarnya.
Satu detik kemarahan itu telah berlalu, namun pertanyaannya menetap di udara: Jika besok pagi, saat kita lelah dan merasa berkuasa, lalu ada seseorang yang "lebih rendah" berani menegur kesalahan kita, apakah kita yakin ludah kita akan tetap tertahan di kerongkongan?
Cimenyan 020126
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!