REFLEKSI | Ludah, Waktu, dan Runtuhnya Menara Gading

ED
Jumat, 2 Januari 2026 | 10:10 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Ludah, Waktu, dan Runtuhnya Menara Gading

Konsep Siri' harga diri yang sakral itu mengalami distorsi hebat. Di kepala Amal, kehormatan bukan lagi tentang menjaga perilaku mulia, melainkan arogansi maskulin yang terluka karena dikoreksi oleh seorang perempuan muda, seorang bawahan. ​Darah naik ke kepala. Nalar padam. Setan meniupkan bara ke dalam dada. Dalam satu detik yang ganjil, mulut yang selama 33 tahun mendaraskan ilmu, mulut yang mungkin sering melafalkan asma Tuhan, berubah fungsi menjadi moncong senjata.

​Cuih.

​Cairan hina itu melesat, menabrak etika, mendarat di teritori wajah dan jilbab Ningsih. Gadis itu terpaku, merasa kerdil, sementara Amal pulang membawa kemenangan semu yang segera berubah menjadi hantu.

​Berhentilah sejenak. Letakkan cangkir kopi itu. Mari kita buka kitab suci dan merenung. Peristiwa ini memantulkan bayangan kisah purba dalam Surah 'Abasa. Di sana, Langit menegur manusia paling mulia, Rasulullah SAW, hanya karena beliau bermuka masam dan berpaling dari Abdullah bin Ummi Maktum, seorang buta yang datang bertanya. ​"'Abasa wa tawalla..." (Dia bermuka masam dan berpaling).

​Jika Nabi yang maksum saja ditegur keras karena gestur wajah yang tak enak dilihat saat menghadapi "orang kecil", lantas di mana posisi Amal Said yang merendahkan manusia lain dengan ludah? Tafsir Jalalain mengingatkan kita bahwa kemuliaan di sisi Allah bukan diukur dari jabatan akademik, melainkan dari tazakka (kesucian hati). Ludah itu adalah antitesis dari kesucian. Ia adalah manifestasi Kibr (kesombongan) penyakit tua Iblis yang merasa api lebih mulia daripada tanah.

​Kini, nasi telah menjadi bubur, dan bubur itu telah basi. CCTV menjadi mata Tuhan di dunia digital. Video menyebar, palu godam institusi jatuh: Amal Said dipecat. Tiga dekade pengabdian hangus. Benarlah sabda Nabi: "Janganlah kamu marah, maka bagimu surga." Amarah adalah bara api, dan Amal gagal memadamkannya. Ia kini duduk termangu, menangis di hadapan kamera, kehilangan jabatan, dan yang paling menyakitkan: kehilangan dirinya sendiri.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.