REFLEKSI | Logo & Jatidiri
Oleh Bambang Melga Suprayogi
SEBAGAI penghargaan pemerintah di jaman Presiden Soeharto, Menteri Keuangan saat itu, tahun 1978, menetapkan gunungan sebagai visual yang menghiasi uang koin seratus rupiah kita. Gambar depannya rumah gadang dan dibelakangnya gambar gunungan wayang.
Tanggapan masyarakat jaman itu, ya biasa saja, dengan adanya penggunaan gunungan pada satu sisi di mata uang koin kita.
Tidak riuh, tidak ada ramai, tidak ada gejolak yang berusaha di kaitan dengan apapun peristiwa saat itu, padahal jika kita tilik sekitaran tahun 1978, ada peristiwa pelarangan dan penerbitan untuk sejumlah media massa, yang jumlahnya tak sedikit, ada 7 media saat itu yang dilarang terbit oleh penguasa.
Peristiwa heboh, tapi yaa, itu tak berusaha dikaitkan-kaitan. Semuanya peristiwa saat itu, berdiri terpisah.
Rezim tak di bully ! Peristiwa hanya jadi sock therapy. Masyarakat tak tersulut, hanya asal tatherapy. .
Tak ada sosok pengompor, yang memperkeruh suasana seperti yang marak hari ini.
Apalagi kalo yang datangnya dari anggota parlemen!
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!