REFLEKSI | Logo & Jatidiri
Maka kita boleh berkata, bahwa pengaruh budaya asing yang masuk mengontaminasi bahasa, seperti sebutan gaya, gayaan dalam panggilan, untuk menyebutkan ayahanda dan bunda, diganti, abi dan ummi, atau moomy, deddy, sudah menunjukan lunturnya identitas kita, dan semakin maraknya gaya arabisasi, dan baratnisasi.
Dan ketika mereka dengan bangga mencirikan gaya hidup, dalam tampilan, bahasa, dan pola perilakunya yang cenderung eklusif...kita akhirnya tersadar, kita telah dijauhkan dari akar kita, jauh dari jatidiri kita, jatidiri bangsa ini, dan baru menyadari, aspek penting perlu adanya identitas karakter budaya, yang perlu di munculkan dalam setiap sendi kehidupan berbangsa kita. Dan itu untuk menangkal pengaruh asing, baik dari timur, seperti Arab, maupun barat seperti Eropa dan Amerika.
Semoga jati diri identitas budaya yang diusung dalam logo baru halal, yang dikeluarkan Kementrian Agama, mampu membuka kesadaran kita, bahwa perang budaya sesungguhnya telah terjadi.***
- Penulis, Bambang Melga Suprayogi, S.Sn., M.Sn., adalah dosen di Telkom University (2012 – Sekarang), Ketua Bidang Dewan Kemamuran Masjid DMI Kab. Bandung (2021-2026), Pengurus Lakpesdam NU Kab. Bandung (2017-2021), Pembina UKM Comik Balon Kata (2012 – Sekarang), Ketua RW 17 Kelurahan Manggahang Kec. Baleendah (2012) dan Ketua Paguyuban Masyarakat BSI 2008. Juga pernah juara I Ilustrasi cover buku IKAPI DKI Jakarta (2006) dan juara 2 Lomba penulisan buku bacaan anak TK/SD tingkat Nasional PUSBUK (2008)
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!