REFLEKSI | Logo & Jatidiri
Balik ke Gunungan jaman Soeharto, yang digunakan pada koin recehan seratus rupiah... Itu merupakan bukti, walau di anggap receh, atau kasta terendah dari nominal uang yang tertera, masyarakat tetap menyambut gembira, dan terbukti, setelah masa berlakunya habis, nominal seratus rupiah dengan gambar gunungan, jadi uang receh yang banyak di cari, bahkan kolektor uang, berani membeli si recehan tadi, dengan harga miliaran rupiah. Luar biasa.
Berbeda pada saat pemerintahan Jokowi sekarang ini, ketika gunungan di angkat ke kasta tertinggi, sebagai bukti adanya penghormatan pada suatu identitas budaya, juga bukti bahwa identitas budaya tersebut kita hormati.
Penghormatan pemerintah pada nilai spirit itu dianggap pelecehan, dianggap salah kaprah, dianggap tak bermoral. Apa lacur, kita sudah masuk dalam situasi perang budaya.
Tetap ada kontra, khususnya dari para pengiat agama, yang memiliki aspek historis, bersebrangan dengan pemerintah, yang kita paham, siapa mereka.
Ya, visualisasi logo halal, dengan pendekatan bentuk gambar gunungan, yang gunungan sendiri dalam sebuah pertunjukan wayang, dipakai sebagai pendekatan prolog dalam awal pertunjukannya pagelaran wayang kulit, sang dalang biasanya melantunkan suluk ini. “Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap katon lir kincanging alis, risang maweh gandrung, sabarang kadulu wukir moyag-mayig saking tyas baliwur ong. (Bumi berguncang, langit berkilat, terlihat seperti orang yang cinta melihat segala kehormatan dan keindahan dunia, gunung pun berantakan).”
Yaa, logo halal yang baru ini, adalah bukti bahwa masih ada rasa cinta kita pada identitas budaya, pun jika dilihat, banyaknya perguruan tinggi seni rupa dan desain saat ini, tersadar untuk mengusung dalam visi misinya, mendekat pada membangun potensi kearifan lokal. Tandanya, kebangkitan potensi kearifan lokal sudah akan pasti, jadi tujuan semua institusi untuk membentengi pengaruh budaya asing.
jika logo halal baru yang di keluarkan oleh Kementrian Agama, dan pemerintah sudah memiliki spirit kearifan lokal, dan para pembully berkata, itu Jawa Sentris!
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!