REFLEKSI | Idul Fitri dan Budaya Kita
Dan akan sangat berdosa, jika itu sampai terlontar dalam ucapan, maupun tulisan yang menyakitkan kaum Muslim umat Rasulullah, baik yang kita kenali, maupun yang tidak.
Dan kesalahan bathinnya, yang menjadi sebuah dosa, adalah lintasan hati, yang tiba-tiba datang, lantas kita ujub, merasa superior, lebih hebat, lebih berilmu, lebih kaya, lebih berpengaruh, dan setumpuk perasaan lainnya yang membuat hati kita yang seharusnya lembut, halus, suci jadi ternodai, itulah kesalahan batin yang tak nampak, namun kita menyadari semua yang muncul tersebut, sebagai penyakit hati kita yang harus kita hilangkan,dengan kita memohonkan maaf kepada orang lain, atas kesalahan yang tak mereka lihat.
Itulah makna dari, minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan bathin, yang sering kita ucapkan, kala kita bersalam salaman di hari yang fitri ini.
Menurut cendekiawan muslim Quraish Shihab dalam buku, "Lentera Hati Kisah dan Hikmah Kehidupan," kalimat minal aidin wal faizin tidak memiliki makna yang pasti. Karena pemaknaannya tidak dapat merujuk pada Al-Qur'an maupun hadits.
Walau demikian, kata aidin dapat didefinisikan sebagai pelaku Idul Fitri. Kemudian, arti minal aidin secara bahasa berarti (semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali.
"Kembali di sini adalah kembali pada fitrah yakni, asal kejadian, kesucian, atau agama yang benar," kata Quraish Shihab.
Sementara itu, kata al faizin merupakan bentuk jamak dari kata Faiz. Quraish Shihab mengatakan, kata tersebut bermakna orang yang beruntung.
Jadi, wal faizin juga dipahami olehnya sebagai harapan dan doa, agar kita, termasuk dalam orang-orang yang memperoleh ampunan dan ridho Allah SWT, hingga kita semua mendapat kenikmatan surgaNya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!