REFLEKSI | Idul Fitri dan Budaya Kita
Perusahaan, maupun pemerintah daerah dan pusat, berpartisipasi menyiapkan bus gratis untuk para pemudik, yang akan pulang ke kampung halamannya.
Potongan-potongan harga, atau diskon khusus, diberikan oleh berbagai platform belanja online, mereka aktif saling berebut pangsa pasarnya, tentunya, dengan memberikan diskon menarik yang sangat mengiurkan konsumen.
Sehingga kadang, barang yang awalnya tak ingin dibeli, malah akhirnya kita beli, sedangkan di berbagai tempat, pasar murah, di gelar dimana-mana, semuanya dibuat, untuk membantu para konsumen memenuhi kebutuhan yang ia perlukan.
Keberlimpahan menyambut Idul Fitri itu, sungguh seperti cendawan di musim hujan, semua bersemi, semua mendapat keberkahannya masing-masing.
Lantas harus bagaimana sikap kita, menghadapi hari yang fitri, di saat situasi masih dalam pandemi ini ?
Dalam situasi yang masih ada di masa pandemi ini, setidaknya kita masih harus ingat pada protokol kesehatan...dan sepertinya, anjuran pemerintah ini harus tetap diperhatikan, sebagai langkah kita mengantisipasi kemungkinan yang terburuk, dan dengan antisipasi itu, paling tidak, kita menutup celah tidak terjangkiti pandemi kembali.
Saling memaafkan kebiasaan baik yang terpuji.
Inilah yang menjadi kebiasaan baik dari umat Muslim Indonesia, yang bisa jadi tak sama dengan negara lain di wilayah Asia tenggara ini. Ada warisan budaya yang mengikat kuat, di samping kita mendapatkan kebahagian dengan datangnya IdulFitri, kebiasaan Muslim di Indonesia, adalah saling mengunjungi sanak famili, tetangga terdekat, untuk silaturahmi saling maaf memaafkan, satu sama lainnya. Ini adalah hal terindah, momen melepas hal yang buruk, sebagai perbaikan ahlaq kita kedepannya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!