REFLEKSI | Hidupkan Nurani
Perhatikan para Nabi, perhatikan para Awatara, dan sang Siddharta, para guru spiritual...mereka adalah orang -orang yang menghaluskan nuraninya, menghidupkan hatinya, dan menekan duniawinya, yang bagi mereka itu tak penting, dan yang utama bagi mereka adalah meniti jalan jiwa, untuk bisa sampai pada kesempurnaan, menjadi manusia sejati.
Apa itu manusia sejati ? Manusia yang sudah mencukupkan dirinya dengan sunyi, mati selagi hidup, hidup untuk melakukan banyak amal kebajikan, dan pelayanan bagi manusia kebanyakan.
Apa ada model manusia seperti itu di jaman ini ?
Pastinya ada, contoh kongkrit bagi kita, untuk manusia seperti itu, adalah Gus Dur, ia bahkan di anggap manusia setengah dewa oleh saudara kita yang Tionghoa.
Dan oleh umat Muslim, ia diangap sebagai wali, seorang yang sudah bisa menaruh nafsunya di bawah telapak kakinya sendiri.
Bagi saudara kita yang Kristen, sosok Gus Dur adalah tokoh perekat, tokoh kebhinekaan, bapak pluralisme Indonesia.
Mengapa Gus Dur bisa seperti itu ?
Karena ia membangun dan terus mengasah Nuraninya, serta menjalankan dan mempraktekan Nurani nya, saat ia berkesempatan menjadi tokoh bangsa. Dan ia berhasil.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!