REFLEKSI | Gaya Kabayan
Kabayan dengan karakternya yang nyeleneh, selalu buat kita merasa tertampar oleh perilakunya yang secara tidak langsung, itu menunjukan representasi dari kedirian kita sendiri, dalam kehidupan kita, yang maunya menang sendiri.
Kabayan itu karakter paradoks, anomali dari umumnya perilaku manusia kebanyakan yang berpikir waras...bila kewarasan kita bisa Kabayan obok-obok dalam setiap pengkisahannya, maka berbalik, kita akhirnya yang dibuat gila karena perilaku Kabayan itu sendiri.
Ya Kabayan adalah gambaran dari karakter kita itu sendiri. Yang kadang buat pusing orang lain di sekitar kita. Dalam lamunan yang ingin kita perankan untuk bisa jadi tokoh tengil ini.
Pada dasarnya kita itu Kabayan, susah di "warah," atau diberi arahan, susah di atur, susah diingatkan, dan susah dibuat jadi pintar.
Yang aneh pada sosok Kabayan itu, ketika sedang datang elingnya, tiba-tiba saja bisa menjelma jadi sosok pewayangan seperti Semar, penuh kebijaksanaan, penuh pangaweruh atau pandai, sakti dan bisa menjadi sosok problem solving yang mampu memecahkan masalah.
Nah persis...gaya Kabayan itu sekarang dipakai oleh sebagian kalangan pemain politik...mereka meniru gaya Kabayan yang susah diatur, tengil gayanya, "pika ambekeun," tapi juga jadi bahan tertawaan tingkat Nasional.
Jika Kabayan Sunda adalah tokoh yang memang polos, lugu, tak berpendidikan tinggi, pandir, pandangan hidupnya lurus-lurus saja, tak berintrik, tak main politik, namun hidupnya selalu riang.
Beda dengan sebagian kalangan politisi yang memerankan karakter Kabayan. Mereka sudah bisa dibilang kelasnya manusia berotak, cerdas, bergelar, pendidikannya tinggi, hidupnya penuh intrik, politik, strategi yang dimainkannya adalah "Hit and Run," suka mengkompori, membuat panas situasi Nasional, cara berpikirnya menggunakan gaya logical fallancy, dan tak bertanggung jawab...!
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!