REFLEKSI | Gaya Kabayan
Oleh Bambang Melga Suprayogi
KABAYAN adalah tokoh cerita yang sangat dikenal oleh masyarakat Sunda. Teridentifikasi cerita ini kepermukaan dari catatan yang dibuat oleh Prof. Snouck Hurgronje, tahun 1893, yang kemudian jadi bahan refrensi oleh Lina Maria Coster-Wijsman, sebagai bahan disertasi dirinya, untuk meraih gelar Dr. Di Universitas Laiden Belanda, tahun 1927.
Kabayan sebagai tokoh cerita folklor, cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Sunda khususnya Banten kala itu, mampu menggugah tokoh orentalis Belanda, Snouck Hurgronje, yang seorang pakar ketimuran, yang kemudian mendalami Islam, dan menjadi tokoh pemecah pemecah belah Islam dari dalam.
Ya, Snouck Hurgronje tertarik cerita Kabayan, bisa jadi karena gaya Kabayan yang nyeleneh, eksentrik, mencuri perhatiannya. Dimana saat itu ia diminta oleh pemerintah Belanda sebagai penasehat urusan pribumi, yang di tugaskan untuk menangani perlawanan masyarakat Aceh kontra Belanda.
Dari perilaku cerita Kabayan yang ia tangkap, Snouck Hurgronje mendapat inspirasi, gaya Belanda yang selalu membuka front permusuhan dengan pribumi, tak akan berhasil untuk memenangkan perang melawan kerajaan di Aceh.
Maka taktik Kabayan lah yang digunakan oleh orentalis ini. Ia melakukan pendekatan dengan gaya merakyatnya ala si Kabayan, dengan menampilkan karakter yang polos, lugu, cerdik dalam mendekati tokoh-tokoh Aceh, hingga ia mendapat kepercayaan pribumi.
Dengan berkedok agama, menampilkan gaya Kabayan, Snouck Hurgronje, akhirnya bisa menghancurkan kekuatan persatuan umat dari dalam, lagi-lagi gaya Kabayannya yang pura-pura jinak, mampu menghibur, sangat membaur dan merakyat, pada ujungnya mampu menikam masyarakat pribumi dari dalam.
Ia, perilaku Kabayan yang kadang menyebalkan ! Tapi cerdik, namun sangat bisa menghibur. Menjadi kekuatan tersendiri, yang tak bisa diperhitungkan dan di anggap sepele.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!