REFLEKSI | Cinta Kesatrianya Allah
Oleh Bambang Melga Suprayogi M.Sn.
KEBAIKAN, dan Syukur Itu pembuka rasa cinta, dekatnya pada keikhlasan, sehingga apapun yang kita kerjakan dan amalkan, ketika ia banyak tak jadi hitungan, ketika tak berbalas tak jadi sebuah kekecewaan.
Cinta itu Ketulusan Ia selalu ada dalam memaknai kondisi apapun. Sedikit ia akan syukuri, banyak akan ia syukuri, bahkan ketika tak adapun tetap rasa syukur tak pernah hilang.
Ikhlas itu kunci keutamaan diri. Tak mengharap, tak berharap, dan tak ada tendensi untuk mendapatkan balasan apapun. Ikhlas itu pintu cinta sejati. Yang ia cari hanya kesejatian. Yang lain ia akan abaikan.
Ikhlas itu bak anak panah yang tepat sasaran. Jika kolom lingkaran lingkaran itu, adalah tingkatan tingkatan sorga, dengan segala kenikmatannya.
Maka Cinta yang suci, cinta yang fokus padaNya, akan selalu menancap pada arah yang tepat. Yang ia tuju adalah tetap titik di tengahnya. Karena sejatinya, yang dicari, ia tahu... Bukan kenikmatan surga seperti yang banyak orang dambakan. Tapi satu titik di tengah, yakni bisa menatap wajahNya, bisa bercengkrama denganNya. Hingga pantas Sufi Wanita Rabiah ad Dawiyah menjadi seorang pemberani, hingga ia berkata...
"Ya Illahi! Jika sekiranya aku beribadah kepada Engkau karena takut akan siksa neraka, maka bakarlah aku dengan neraka-Mu. Dan jika aku beribadah kepada Engkau karena harap akan masuk surga, maka haramkanlah aku daripadanya!"
Itulah kesejatian Cinta.
Ia tak memerlukan sebuah imbalan. Cinta sejati hanya untuk Robb Nya. Cinta sejati adalah cinta sucinya para kesatria Allah yang maha gagah.
Alhamdulillah.
***Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!