REFLEKSI | Allah Memaksakan Kebaikan
Menjadi manusia baik itu akan selalu dibukakan jalan-jalannya. Menjadi manusia yang tak lulus ujianNya, gagal dalam misi yang diemban, dalam memunculkan sisi kebaikan, itupun banyak terjadi.
Kita berada dalam dua sisi pemberat timbangan, lalu...akan di pilih berat timbangan yang beratnya sebelah mana, tentunya hanya kita yang paham.
Dan keputusan kita mengambil salah satu pilihan itupun, tentunya akan berimplikasi pada kebaikan kita dimasa depan, takdir baru bagi kita ketika kita memilih jalan kebaikan.
Dan kebaikan yang dilakukan untuk manusia dalam memberikan manfaatnya bagi kebermanfaatan untuk manusia lainnya, Allah catat dalam catatan penuh arti, karena ada hal monumental yang menjadi kiprah dirinya, yang membedakan keberadaan dirinya diantara orang-orang lain disekitarnya.
Maka bersyukurlah bagi mereka yang Allah sedang berada didekatnya dengan cara itu, di mana Allah menguji dirinya, ' lewat kebaikan yang dipaksakan Allah' untuk bisa ia lakukan, dan ia tunaikan.
Ketika kebaikan itu di lakukan, maka, takdir bagi dirinya dimasa depan Allah bukakan lembaran baru, yang akan membuat hidupnya bahagia, Alhamdulillah.
Mereka yang berjiwa hanif, adalah mereka, orang-orang yang ikhlas dalam ibadahnya. Tidaklah mungkin seseorang itu berjiwa hanif, namun tidak mukhlis (orang yang berhati ikhlas). Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!